Showing posts with label Intermezzo. Show all posts
Showing posts with label Intermezzo. Show all posts

Celoteh Zahra* (11)

Tentang Kerbau

"Mamah, kerbau itu apa sih?" tanya Zahra tiba-tiba ketika kami sedang berjalan di depan sebuah pertokoan beberapa minggu yang lalu.

Aah.... saya baru ngeh kalau selama ini saya lupa mengenalkan kerbau kepada Zahra !

----

Tentang Ghibah

Beberapa hari setelah kejadian di atas, pada waktu saya sedang sholat maghrib, zahra menghampiri saya. Ditunggunya saya hingga selesai. Setelah sholat maghrib rampung, Zahra mulai bicara dan bertanya ini dan itu. Saya memanfaatkan momen tersebut untuk memberi khasanah pengetahuan kepadanya dengan mengulangi "pelajaran" yang pernah berikan kepadanya seperti apa itu amal sholeh dan contoh-contohnya serta apa itu maksiat dan contoh-contohnya. Karena Zahra terlihat cukup paham, saya tambahkan khasanah baru, yaitu tentang ghibah.

"Mama mau cerita tentang ghibah....", saya pun mulai "pelajaran". "Ghibah itu..... (bla...bla...bla...)." seraya memberi contoh-contoh yang dekat dengannya.

Seperti biasa, Zahra selalu senang mendengar mamahnya "bercerita". Jarang-jarang mamahnya secara sukarela bercerita (tanpa diminta).

"Zahra ngerti?" tanya saya. (Saya lupa apakah Zahra menjawab atau mengangguk saja. Yang jelas, kesimpulan di benak saya, Zahra waktu itu cukup paham).

Tanpa diminta, Zahra mencoba membuat resume "pelajaran" yang diberikan mamahnya, mulai dari syirik, mencuri, berbohong, dst. Bahasanya sih amburadul, loncat ke sana ke mari. Saya biarkan saja, sampai kemudian Zahra bertanya,

"Mamah, ghibah itu rumahnya dimana....?"

Hahahaha..... pecahlah tawa saya seketika itu (:

*) Usia Zahra 4 tahun 7 bulan

Tidak Mau Kayak Nenek-nenek


Suatu pagi di summer holiday 2011...

Zahra : "Mah, nanti kalau Zahra kelasnya di atas (maksudnya naik kelas ke KG 2 /nol besar), Zahra tidak belajar Al Qur'an lagi..."

Mamah : "Lho, Zahra tetap belajar Al Qur'an nanti..."

Zahra : "Tidak, Mah. Kata Ms. Magda (guru religion & Al Qur'an Zahra), Zahra sudah pintar. Zahra sudah hafal Al Qur'an...."

Mamah : "Lho... tidak, Zahra. Belajar Al Qur'an itu terus...terus...dan terus. Sampai besar. Sampai nenek-nenek. Mamah masih belajar Al Qur'an. Bapak juga masih belajar Al Qur'an..."

Zahra : (marah) "Tidak mau! Zahra tidak mau kayak nenek-nenek!"

Mamah : (halah....salah ngomong deh ^?@$)&05{5!@#% )




*Photo by learning roots

Celoteh Zahra (10) : Teteup....Ingin Jadi Mamah

Waktunya makan malam. Alhamdulillah Jumat malam tersebut, kami sekeluarga tidak kemana-mana dan bisa makan malam bersama di rumah. Mamah, bapak, dan Zahra (4 tahun 1 bulan) menghadapi piring masing-masing. Menu malam itu adalah tempe penyet Bu Tamyi. Alhamdulillah, Zahra pun sedang mau makan sendiri. Namun, seperti biasa, selalu tersendat dan kudu dikomando mamah atau bapaknya.

Bapak : "Zahra, ayo dimakan. Katanya mau jadi dokter. Kalau mau jadi dokter, harus makan banyak."

Zahra : "Zahra tidak mau jadi dokter!"

Mamah : "Emang Zahra maunya jadi apa....?"

Zahra : "Zahra tidak mau jadi dokter! Zahra mau jadi mamah!"

Mamah : (dalam hati) "Teteup....."

^_^


Waktu-waktu Bersama Zahra (3) - Main Sekolah-sekolahan



"Ustadzah, Ustadzah, besok bangunnya pagi, ya...," celoteh Zahra malam itu.

Siapa yang Zahra panggil ustadzah? Tak lain tak bukan adalah mamahnya sendiri. Zahra memanggil mamahnya ustadzah kalau sedang main sekolah-sekolahan bersama mamah. Mamah jadi gurunya, Zahra dan bapak jadi muridnya, ditambah lagi boneka, sisir, atau apapun yang Zahra inginkan berperan sebagai teman-temannya. Berhubung mamahnya gak banyak hafal cerita, jadi yang diceritain adalah kisah yang yang sama, yaitu "Burung Hud Hud Nabi Sulaiman 'Alaihissalam", atau paling banter "Hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersama Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu dari Mekkah ke Madinah".

Nah, kalo main sekolah-sekolahan gitu, ada "panduan baku" dari Zahra, yaitu ibu ustadzah (mamahnya) harus memulai kegiatan bercerita dengan khutbatul hajah ("versi pendek", karena mamahnya belum hafal versi full-nya). InsyaAllah redaksi khutbatul hajah tidak asing lagi di telinga kita karena pada umumnya, ustadz-ustadz ahlu sunnah selalu mengawali khutbah atau ceramah dengan khutbatul hajah ini, berdasarkan contoh Nabi Sholallahu 'Alaihi Wassalam [*]. Ini dia redaksi khutbatul hajah "versi pendek" :


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya).

Setelah itu, barulah mamah bercerita. Di kisah Nabi Sulaiman ini, mamah lebih menekankan pada Tauhid, yaitu wajibnya kita menyembah Allah dan berdoa kepada-Nya saja. Metoda bercerita ini diselingi dengan tanya-jawab interaktif dengan Zahra. Alhamdulillah, Zahra sangat bersemangat dengan kegiatan ini hingga main sekolah-sekolahan selesai pun, mamahnya masih dipanggil ustadzah ^_^


[*] Pelajaran penting dari khutbatul hajah bisa dibaca di sini.

Foto koleksi pribadi

Waktu-waktu Bersama Zahra (2)

Menonton

Tinggal di rumah flat di tanah Arab memang berbeda dibandingkan dengan tinggal di rumah-rumah di Indonesia pada umumnya. Minimnya area bermain (halaman) serta kondisi udara yang kadang kurang bersahabat, menyebabkan anak lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Pada umumnya, anak-anak di sini menghabiskan waktu dengan menonton TV, bermain game, pergi ke playground dan tempat-tempat bermain di mall pada waktu akhir pekan. Kami tidak menyetel TV, tapi Zahra masih diperkenankan menonton video (bisa film kartun, film dokumenter, video demo memasak, video prakarya, dsb.). Sehari, VCD yang boleh ditonton 2-3 saja (biasanya 2 sudah cukup). Kalau sudah menonton VCD, tidak ada lagi kuota waktu untuk menonton di YouTube. YouTube biasanya diberi waktu 1-2 jam (biasanya 1 jam lebih sedikit sudah cukup). Untuk YouTube, Zahra lebih sering menonton dari HP. Ini juga memudahkan saya untuk mendampinginya saat menonton. Meski tontonan tersebut bernama film kartun, namun bukan berarti aman 100%. Film kartun kadang mencontohkan kekerasan, kejahilan, dsb. Belum lagi kartun-kartun barat yang sarat akan budaya dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Diperkenalkannya anak dengan dunia sihir, peri-peri, hari-hari raya agama mereka, pergaulan dengan lawan jenis, model pakaian yang terbuka aurat, musik dan lagu, dan masih banyak lagi. Kalau bisa dibilang, tidak ada satu pun yang aman, meski itu bernama film kartun Islam sekalipun.

Sebelumnya Zahra sempat mengkonsumi film kartun Islam untuk anak-anak. Betul bahwa film tersebut mengajarkan adab-adab, doa, pengetahuan dasar Islam, dsb. Sayangnya, film itu sarat akan musik dan lagu-lagu. Sementara, telah sampai pengetahuan saya tentang haramnya musik dan lagu, dan Zahra pun tahu akan hal itu (Kalau mau protes, gak terima, gak setuju, jangan sama saya, yah. Protes langsung sama Pembuat Syariat ^_*...). Oleh karena itu, Zahra terbiasa mematikan suara video jika terdengar ada musik dan lagunya. Kadang dia lupa juga sih, dan kalau diingatkan, Zahra langsung mematikan suaranya. Yang sulit adalah ketika ada dialog bersamaan dengan musik...

Selain itu, cara/ilustrasi yang disuguhkan film-film kartun Islam yang pernah kami tonton itu kadang justru memberi ide pada anak tentang pertengkaran, kata-kata yang kurang santun, dan kenakalan-kenakalan anak lainnya. Betul bahwa kemudian dijelaskan bahwa perbuatan-perbuatan tsb adalah perbuatan yang tidak baik. Namun, sayangnya anak terlanjur "terinspirasi" dengan contoh yang jelek itu, walaupun di sisi lain mereka tahu bahwa perilaku tersebut tidak baik.

Hal lain adalah bahwa film kartun "Islami" tersebut mencontohkan tata cara ibadah-ibadah yang menyelisihi sunnah, termasuk pengambilan doa dari sumber yang dhaif.

Ada lagi film kartun kisah-kisah Islam. Ternyata, kisahnya pun kurang dapat dipertanggungjawabkan karena ada diantaranya yang mengambil kisah dari sumber yang dhaif ataupun maudhu.

Serba salah memang. Di satu sisi, anak butuh hiburan. Di sisi lain, berbagai "ancaman" mengintai anak dari apa yang dia tonton. Itulah sebabnya, saya mematikan TV, dan hanya menggunakan pesawat TV tersebut untuk menyetel video kajian dan video-video Zahra yang sudah saya seleksi.

**

Bermain Game

Selain menonton video, Zahra diperkenankan bermain game di internet. Tentunya, game yang dimainkan adalah hasil seleksi mamanya. Kebanyakan game edukatif, seperti mengenal huruf, belajar membaca, mengenal bentuk dan warna, mengenal kosa kata bahasa Arab, berhitung, dan banyak lagi. Saya banyak mendapatkan link edukatif tersebut dari para homeschooler. Seperti halnya menonton, waktu main game pun dibatasi. Biasanya 1-2 jam saja/hari. Habisnya waktu ditandai dengan bunyi timer/alarm yang sudah disetting sebelumnya.

**

Mengerjakan Worksheet

Sebelum Zahra bersekolah (menjelang usia 3 tahun), saya memberikan worksheet untuk kami kerjakan bersama-sama. Waktu itu Zahra belum paham apa yang bisa dia lakukan dengan worksheet tersebut. Jadi, sayalah yang lebih banyak mengerjakan sementara Zahra memperhatikan. Misalnya mewarnai. Setelah itu kami gunting dan kami tempel di kertas atau dinding kamar Zahra. Dalam kegiatan tersebut, saya mencoba memperkenalkan Zahra pada bentuk, warna, huruf, dan angka. Tidak perlu menuntut anak untuk langsung bisa. Yang penting dia have fun dan tidak asing dengan bentuk-bentuk tersebut di kemudian hari. Kegiatan mewarnai juga bisa melatih motorik halus Zahra.

Selain itu, kami bermain dengan playing dough (lilin mainan/plestisin). Awalnya, saya hanya membuat bentuk-bentuk dasar seperti bola, lingkaran, bujur sangkar, persegi panjang, segitiga, dsb. Kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk lain yang sederhana, seperti mangkuk, gelas, sendok, dsb. Sampai sekarang Zahra masih senang bermain plastisin ini. Dibentuknya huruf-huruf hijaiyah alif, ba, ta, dst. InsyaAllah bermain plastisin dapat membantu melemaskan otot-otot tangan anak sehingga membantu perkembangan motorik halusnya.

**
Melukis

Melukis, atau lebih tepatnya mewarnai dengan cat. Merupakan salah satu kegiatan Zahra. Sebenarnya sih tidak karu-karuan. Tapi tak apalah. Biarlah Zahra bereksperimen dengan warna serta melatih motorik halusnya. Selain itu, seperti halnya acara bermain yang lain, Zahra pun diberi tanggung jawab untuk tidak menumpahkan air dan cat. Kalau tumpah, maka dia sendirilah yang harus membersihkannya. Selesai bermain, Zahra harus membereskan kembali peralatan yang dia pakai.

**

Rasa Pisang atau Stroberi?

Kondisi lingkungan yang saya tempati menuntut saya (dan suami) berperan sebagai teman bagi Zahra. Sering kami kejar-kejaran di rumah, main petak umpet, main kuda-kudaan, main kitik-kitikan, dll. Oh ya, Zahra senang lho digigit pantatnya. Dia akan rela menyodorkan pantatnya yang montok untuk digigit mamahnya sambil bertanya, "Mamah, mau rasa pisang atau stroberi?" Maksudnya, pantat kiri rasa pisang, pantat kanan rasa stroberi. Lalu saya memilih cita rasa yang saya suka, dan menggigit pantatnya sesuai rasa yang dimaksud. Setelah itu, pilihan rasanya diganti dan saya diminta memilih. Begitu seterusnya. Hehehehe....permainan yang aneh 'kan?

**

Mendekap Zahra

Cantik. Itulah yang terlihat jika Zahra mengenakan mukena. Kadang dia ikut sholat di samping saya, namum kadang di tengah-tengah sholat anak itu sudah kabur. Yang unik, jika saya tengah berdizikir sesudah sholat, maka Zahra akan masuk ke mukena saya, berbaring di pangkuan saya untuk sesaat, menikmati dekapan di dada saya, lalu...kabur lagi. Saat-saat mendekap Zahra sambil menciuminya adalah salah satu momen yang paling membahagiakan untuk saya.

Waktu lain yang Zahra senangi untuk mendapat dekapan adalah waktu bangun tidur. Biasanya dia tidak langsung ON. Jadi, Zahra membutuhkan beberapa saat untuk dipeluk, sambil dibelai-belai dan dicium. Atau bahkan, dia hanya ingin dipeluk.

Atau, saat-saat kapanpun saya atau Zahra ingin peluk dan cium, maka saat itulah saya memeluk dan menciumnya. Bagi kami, tiada hari tanpa peluk dan ciuman. You know what, hugs and kisses can heal the pain. Bahkan ketika anak melakukan kesalahan kemudian menangis, pelukan dapat menentramkan hatinya dan hati seorang ibu. InsyaAllah, anak pun bisa menerima jika dinasehati sambil didekap atau ditatap matanya dengan lembut. Well, saya sih ibu yang galak sebenarnya, hehehe...

**
Membaca Buku.

Membaca adalah salah satu hobi Zahra. Lebih tepatnya, dibacakan buku. Zahra memiliki banyak buku karena saya mencoba semaksimal mungkin membiasakan Zahra membaca sedari kecil. Membaca adalah jendela ilmu, dan ilmu adalah cahaya...

Zahra sering meminta saya untuk membacakan buku-bukunya. Karena saya sering malas, saya biasanya hanya membacakan beberapa buku. Sisanya Zahra sendiri yang "membaca". Biasanya dia pandangi gambar-gambarnya dalam waktu lama sebelum membalik halaman tersebut ke halaman berikutnya.

**

Bercerita.

Salah satu kegiatan favorit Zahra adalah mendengarkan cerita. Bisa dari buku, atau cerita karangan saya sendiri. Kadang bercerita di kamar/tempat tidur, kadang sambil mandi, kadang sambil makan, dan kadang bercerita adalah jurus mujarab untuk membangunkan Zahra di pagi hari.

Cerita yang saya sampaikan kadang kisah-kisah, namun lebih sering cerita remeh temeh, seperti anak burung dan mamah (induk) burung yang bangun di pagi hari, metamorfosis katak dengan ilustrasi sederhana, ayamnya aki di Indonesia, kucingnya mamah waktu kecil, atau apapun itu. Bagi seorang anak, cerita-cerita tersebut ternyata menggugah minatnya.

Oh ya, Zahra juga enjoy jika mamahnya bercerita sambil pura-pura menjadi ibu guru. Kalau ada bapak, biasanya bapak pura-pura jadi salah satu murid. Yang saya ingat, saya bercerita tentang kisah Nabi Sulaiman. Sebelum bercerita, saya mengawalinya dengan khutbatul hajjah. Itu lho bacaan yang sering diucapkan ustadz kalau mau ceramah : "...innal hamda lillaah, dst..." Wah, Zahra senang sekali. Nanti Zahra akan menagih mamahnya untuk mengulang lagi, "Ayo mah, mamah seperti ustadz...." Hehehehe...

***

Apa lagi ya....? Udah dulu kali yaa.... Capek nih mengarang indahnya ^_^

Doha, 24 Jumadil Tsani 1432 H / 28 Mei 2011

Photo : morgue****













Waktu-waktu Bersama Zahra


Sebenarnya momen-momen di bawah sudah terlewati. Sekarang Zahra berusia 4 tahun. Kalau tidak salah, momen-momen di bawah terjadi di usia Zahra 2-3 tahun. Momen-momen lain saya bersama Zahra, insyaAllah bisa diintip dalam rangkaian tulisan "Celoteh Zahra" dan tulisan-tulisan lain di blog ini.

------------


Bersama Kecoa

Saya sebenernya jijik sama kecoa. Tapi saya berusaha supaya Zahra 'gak takut sama kecoa. Jadi, habis kecoanya dipukul babak belur, kami sama-sama memperhatikan lebih dekat kecoa itu. Zahra kelihatan have fun memperhatikan kecoa lebih dekat. Kadang dipindahkan ke tisu dan dibawa-bawa sampe bosen. Alhamdulillah, kecoa di tempat tinggal kami kecil-kecil dan agak bule...tidak terlalu menjijikan dibanding kecoa pada umumnya yang membuat saya jijik. Hehehehe....



Bebek Kwek Kwek*

Tabiat anak, kalau disuruh mandi suka susah. Selain menyediakan berbagai mainan di kamar mandi, cara lain adalah mengganti kata mandi dengan "main air". Supaya tidak bosan, variasi lain adalah membuat "tarian" dan "nyanyian" yang berupa gerakan lucu di dalam kamar mandi. Maka, jangan segan-segan belagak seperti badut, 2 tangan di pinggang, pantat (maaf) mundur ke belakang, lalu goyang-goyang ke kiri dan kanan, sambil mengarang lagu sendiri, "Bebek...kwek...kwek... (3x). Bebek! Bebek! Bebek!". Semakin cepat tempo lagu, semakin cepat goyang-goyangnya. Zahra pun gembira, tertawa kesenangan.... ^_^


*Eniwei, jurus bebek ini kadang-kadang masih saya pake. Untuk Zahra, masih tetep fun sambil meniru mamanya dan bergoyang bersama...

-----


Aku Kelinci

Oh ya, selain jurus "bebek kwek kwek", kami juga punya lagu lain karangan sendiri. Gayanya tetep sama kayak "bebek kwek kwek", bedanya yang ini tangannya (kedua telunjuk) di atas kepala sambil bernyanyi, "Aku kelinci...aku kelinci....aku kelinci.... Kelinci! Kelinci!!" Kata kelinci, bisa diganti dengan binatang lain yang Zahra sukai. Goyangnya? Tetep doong.... ^_^


Photo : inima****

Celoteh Zahra (9) : Membuat Donat


Salah satu aktivitas yang Zahra (4 tahun) sukai adalah membantu mamah di dapur, terutama saat membuat kue. Mamah bukanlah orang yang rajin dan pandai membuat kue. Tapi sesekali (jarang) mencoba membuat pizza dan donat. Tentunya Zahra suka mencampur bahan-bahannya dan mengacak-acak adonannya. Kalau sudah siap, Zahra melatih diri membentuk adonan tersebut menjadi bulat pipih (untuk pizza) dan bulat berlubang (untuk donat).

Kala itu, Zahra begitu kebelet ingin membuat donat. Walaupun sebenarnya letih, akhirnya mamah pun beranjak diri untuk membuat donat. Tokh, bahan-bahannya sudah lengkap, pikir mamah. Satu per satu pun bahan disiapkan. Zahra dengan antusias mencampur bahan-bahan tersebut, hingga mamah bingung karena tidak menemukan fermipan (ragi instan). Dicari, dicari, dan dicari. Mamah yakin masih memiliki fermipan. Terbayang bungkus kecilnya berwarna coklat bergambar roti. Tapi kok tidak ada?

"Zahra....yaahhh....kok ragi instannya tidak ada.....?" mamah mulai cemas.

Zahra terdiam menangkap kecemasan mamah. "Aku mau buat donaat...," kata Zahra.

Mamah tetap mencari-cari, tidak percaya kalau di dapurnya tidak ada ragi instan sedikit pun.

"Zahra, ragi instannya tidak ada. Kita tidak bisa membuat donat... Aduh, mamah sediih..." kata mamah.

"Aku juga sediih.... Aku mau buat donaat.... Tidak usah pake ragi instan...," respon Zahra.

"Ya tidak bisa, Zahra. Donat 'kan harus pake ragi instan. Kalau tidak pake, ya tidak jadi donat. Nanti ya, tunggu bapak pulang. Nanti minta tolong bapak untuk beli ragi instan dulu..." jelas mama.

Zahra tampak kecewa karena keinginannya menggebu-gebu membuat donat dan mengacak-acak adonan pupus sudah.

Mamah pun pasrah karena memang tidak bisa menemukan fermipan. Mamah mengembalikan isi laci dapur tersebut ke tempat semula. Masih penasaran, mamah membuka toples plastik mungil.

"Zahraaaa..... Sudah ketemu!! Ragi instannya ada! Kita bisa membuat donat...!!"

Ternyata mamah memang masih punya ragi instan, tapi bukan merk fermipan, dan tidak dalam bungkusan khas fermipan berwarna coklat. Mamah ingat, bahwa bungkusan ragi instannya robek, kemudian memindahkannya ke toples mungil.

"Terima kasih, mamah, sudah tidak membuat Zahra sedih lagiii....!" teriak Zahra dengan riang dan penuh kebahagiaan. Terpancar senyuman yang indah ke arah mamah dengan mata berbinar-binar.

Mamah tersenyum mendengarnya. Melihat kebahagiaan yang terpancar dan ucapan terima kasih yang begitu tulus. Sungguh polosnya anak ini, pikir mamah...

Akhirnya, dengan semangat '45 Zahra menguleni adonan bersama mamah. Well, setelah kejadian donat itu, mamah terkapar di tempat tidur selama 2 hari karena terlalu letih....

^_*

Doha, 23 Jumadil Tsani 1432 H / 27 Mei 2011


Celoteh Zahra (8) : Ingin Jadi Mamah


Tadi malam, Zahra (4 tahun) diajak bapak pergi belanja ke Almeera. Pulang dari Almeera, bapak cuci piring, lalu membersihkan ikan-ikan yang bapak beli di Almeera untuk kemudian dimasukkan ke dalam freezer di dalam kantung-kantung plastik khusus.

Zahra : "Bapak sedang apa?"
Bapak : "Sedang membersihkan ikan"
Zahra : "Nanti bapak ajari Zahra, ya, cara membersihkan ikan. Kalau Zahra sudah bisa, biar Zahra saja yang nanti membersihkan ikannya..."

Kami orang tua Zahra sangat bahagia dan terselip rasa bangga, bahwa di usianya 4 tahun, Zahra memang senang memperhatikan lingkungan serta senang dengan tugas dan tanggung jawab. Ia senang "membantu" orang tuanya dalam banyak hal, misalnya menyapu, mengepel, membuat orak-arik telur, mengambil beras untuk dimasak, mengupas bawang, memotong sayuran, mencuci piring, memindahkan peralatan makan yang sudah bersih dari dishwasher, mengeluarkan baju-baju bersih dari mesin cuci, menjemur baju-baju tersebut, mengangkat pakaian dari jemuran, melipat pakaian-pakaian tersebut, pura-pura menyetrika, memasukkan mainan dan buku-buku ke tempat semula, dan lain-lain. Tak perlu ditanya bagaimana kualitas hasil kerjanya karena itu tidak penting. Yang terpenting adalah Zahra memiliki keinginan untuk membantu orang tuanya dan menyukai tugas-tugas serta tanggung jawab di usianya yang masih belia. Mamah pernah bertanya, "Zahra kalau sudah besar mau jadi apa? Jadi ibu guru atau jadi dokter?" Zahra menjawab, "Mau jadi mamah..."

What a good beginning. InsyaAllah...


Doha, 21 Jumadil Tsani 1432 H / 25 Mei 2011

Photo : Sung Il-Kim | Corb**

Celoteh Zahra (7)


Si "Kurus" dan Si Cantik

Bapak : "Bapak kok sekarang kurus, ya" (sambil mengelus-ngelus perutnya yang aduhai *_^)
Mamah : "Iya, kurus kalo dilihat dari sedotan yang ditekuk. Lihatnya dari Monas..." (ngasal)
Bapak : "Zahra, bapak gemuk atau kurus?" (cari dukungan)
Zahra : "Gemut!" (gemuk, maksudnya)*
Bapak : "Kalo Zahra gemuk atau kurus...?"
Zahra : "Cantik!"
Bapak & Mamah : (nyengir)


Mamah kok Marah-marah?

Sudah menjadi hal lumrah seorang ibu ngomel pada anaknya. Demikian juga saya. Seringkali, tingkah Zahra (3 tahun 11 bulan) membuat senewen. Atau kadang, saya suka "menuduh" (alias suudzon) duluan sebelum menerima "penjelasan" dari Zahra. Jika Zahra tahu bahwa ia salah**, ia biasanya menangis. Kadangkala Zahra bukan menangis, tapi malah tambah galak dan agak keras kepala. Kalau begini, artinya, Zahra merasa kecewa atau merasa benar alias punya "justifikasi" atas perilakunya atau ada ketidakkompakkan antara saya dan bapaknya. Ada kalanya juga, dia bengong. Seperti pagi ini karena tiba-tiba senewen mamanya kambuh gara-gara Zahra tidak segera mengenakan celananya.

Komat-kamit mamanya ngomel, "...tmg&@s.,^@"[l$#=_&%$^* !!!" (saya sendiri tidak ingat ngomong apa).

Zahra setengah bengong dan terkejut kembali ke WC dan mengenakan celana.

Kemudian Zahra kembali lagi dan membicarakan sesuatu yang tidak ada korelasinya dengan omelan saya. Dengan konotasi netral, Zahra berkata, "Mah, kok susunya coklatnya dingin, ya? Aku 'kan pingin susu coklat yang hangat...".

Masih senewen saya ngomel lagi, "....bxc#)(&%=:@"+}<*:"....!!".

Dengan wajah masih setengah bingung Zahra menimpali, "Mamah kok marah-marah...? Zahra 'kan bicara baik-baik...Tadi 'kan Zahra gak pake celana. Zahra 'kan gosok gigi (mungkin maksudnya, habis gosok gigi, mau pipis dulu sehingga celananya dilepas)".

Mendengar ucapan Zahra, tiba-tiba saya tersadar, seolah-olah otak saya berkata, "Oh iya, kenapa juga aku marah-marah-marah, ya? Nih anak 'kan baik-baik aja...". Seketika itu omelan saya berubah jadi senyum, dan senewen saya hilang begitu saja :)

.....

Tidak hanya saya yang hari itu yang senewen secara "irrasional". Ternyata di sore hari ini, bapaknya Zahra juga senewen sehingga ia bicara ke Zahra dengan agak keras (meninggi). Lalu Zahra pun menimpali, "Bapak kok bicaranya keras? Aku 'kan bicaranya pelan-pelan..."


Doa Zahra

Ibu-ibu yang pernah hamil sebagian besar mungkin sangat memahami how miserable the first trisemester is. Saya mengistilahkan "sakit" kepada Zahra untuk menyederhanakannya. Tiada hari dilalui tanpa "penderitaan".

Sore itu, Zahra bertanya, "Mamah masih sakit?"

Dengan lemah saya menjawab, "Masih, sayang.... Makanya, doakan mamah, Zahra, supaya mamah sembuh..."

Seketika itu juga Zahra membalikkan badannya (menggulingkan badanya, lebih tepatnya), terdiam dan menerawang. Tiba-tiba ia berlari ke kamar lainnya.

Terdengar suara Zahra sayup-sayup, "Ya Allah, sembuhkan mamah, ya Allah...".

Zahra pun kembali dan berkata dengan riang gembira, "Sudah, mah. Aku sudah berdoa!".

Dengan senyum menghiasi wajah saya, "Terima kasih, sayang, sudah mendoakan mamah. Jazakillahu khair..."

Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan anak tanpa dosa ini....


Dibuang Sayang

Suatu pagi, mamah sedang membantu Zahra memakaikan singlet (kaos dalam).

Zahra : "Mah, singletnya udah sempit. Aku 'kan sudah besar!" (sambil nunjuk ke ketiaknya).
Mamah : "Iya, nanti dibuang bajunya."
Zahra : "Jangan dibuang dong! Untuk adik baby aja***!"
Mamah : (iya, maksudnya begitu...senyum dalam hati)


Doha, 12 Jumadil Awwal 1432 H / 16 April 2011


Catatan Kaki :

*) Zahra masih suka salah mengucapkan konsonan di akhir kata, misalnya : gemuk menjadi gemut; pelan-pelan menjadi pelam-pelam, wa ladh dhooliin (Al Fatihah) menjadi wa ladh dhoo liim; laa kum diinukum waliyadin (Al Kafirun) menjadi laa kum diinukum waliyadim, dan masih banyak lagi (saya tidak bisa mengingatnya satu persatu saat ini).

**) Setelah menangis beberapa lama, biasanya Zahra saya pangku atau peluk, lalu saya jelaskan perilaku apa yang membuat saya marah saat itu. Saya mengharapkan, Zahra memahami dengan benar apanya yang salah. Kadangkala, kalau sesuatu itu berulang, saya tidak perlu menjelaskan kembali. Cukup bertanya, "Zahra tahu apa yang membuat mamah marah?" Maka dia akan menjawab dengan tepat tanpa diberitahu. Sering juga, saya tidak cukup memiliki kesabaran, sehingga proses ini lebih cenderung bersifat "intimidasi". Saya mohon ampun kepada Allah atas kekasaran saya (biasanya saya pun minta maaf kepada Zahra dan tentunya gadis kecil ini senantiasa akan memaafkan mamahnya yang penuh khilaf dan kekurangan).

***) Adik baby Zahra masih ada di dalam perut. Saat ini insyaAllah baru berusia kurang lebih 3 bulan.

Foto : inim*****

Celoteh Zahra (6)


Pagi itu, sambil 'nongkrong' di kloset, Zahra bertanya,


Zahra : "Mah, bapak kemana?"

Mamah : "Bapak kerja."

Zahra : "Kok bapak gak mandi?"

Mamah : "Sudah, tadi waktu Zahra masih bobo."

Zahra : "Gak makan dulu...??"

Mamah : "Nanti di pabrik makannya."

Zahra : "Kenapa gak makan dulu (di rumah)....?"

Mamah : "Buru-buru. Nanti terlambat...."

Zahra : "Terlambat apa...?"

Mamah : "Terlambat kerja."

Zahra : "Nanti orang-orangnya sudah pada pulang....??"

Mamah : "Tidak. Orang-orangnya belum pada pulang..."

Zahra : "Terlambat apa, mah...?" (tampaknya Zahra masih belum ngerti)

Mamah : "Ya, terlambat kerja. Kesiangan...."

(Zahra ternyata lebih menangkap kata 'kesiangan', sehingga dia beralih ke pertanyaan lain)

Zahra : "Di pabrik ada makanan apaa....??" (rupanya 'nyambung' dengan pembicaraan awal tentang sarapan)

Mamah : "Ada"

Zahra : "Di pabrik ada mainan...??"

Mamah : "Ya tidak ada. Pabrik 'kan bukan tempat untuk anak-anak..."

Zahra : "Tapi dulu dulu Zahra main di pabrik..."

Mamah : "Tidak. Zahra belum pernah ke pabrik. Mamah juga belum pernah ke pabrik...."

(Dan Zahra pun terlihat berpikir keras seolah mencoba memahami seperti apa pabrik tempat bapak bekerja)


Foto : dreamt***

Celoteh Zahra (5)


Pesan Zahra Untuk Bapak


Beberapa waktu yang lalu, bapaknya Zahra secara tidak sengaja menabrak seekor kucing yang menyeberang di dekat rumah, tepatnya di Ibnu Katheer Street. Dengan penuh penyesalan, bapak membuat "pengakuan dosa" kepada Zahra. Zahra (3 tahun 10 bulan) tampak sedih. Namun insyaAllah gadis kecil ini tampaknya memahami bahwa itu adalah sebuah kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja dan dia tidak seharusnya marah kepada bapaknya itu.


Beberapa waktu berselang, sewaktu kami pulang dari perjalanan dan sudah sampai di depan rumah, Zahra berkata, "Pa, kalo nyetir hati-hati ya. Kalo ada kucing, berhenti. Kucingnya jangan ditabrak lagi. Kasihan, nanti kucingnya mati..."


Aah, Zahra.... (senyum).



****


Pesan Zahra Untuk Mamah


Belakangan ini fire alarm di gedung kami beberapa kali berbunyi tanpa sebab. Hal yang sama terjadi di suatu pagi, saat Zahra hendak berangkat mandi, alarm kembali bunyi. Selang beberapa detik kemudian, alarm berhenti berbunyi. Sebelum berangkat sekolah, Zahra berpesan pada mamah,


Zahra : "Mah, kalo alarmnya bunyi, mamah turun ya lewat tangga."

Mamah : "Kalo Zahra di sekolah?"


Zahra : "Mamah turun sendiri. Tidak usah takut, 'kan ada Allah...."


Mamah : (senyum)


Kalo Zahra Nyanyi

Beberapa bulan mbah Putri dan Mbah Kakung di Qatar, Zahra (3 tahun 7 bulan) dapat banyak lagu baru. Salah satunya yang ini nih.....

Dodoli dodoli plet
Suala mobilkuuu...
Lodanya dali kalet
Walnanya biluuu...
Dodoli dodoli plet
Nyetil sendiliii...Distop pak polisi
Haalus belentiii... *)


Doha, Nov-Des 2010
-Ummu Zahra-

*) Semua huruf "L" diganti "R" ya, om dan tante.... ^_*

Photo : dreamst***

Celoteh Zahra (4)


A, Z, dan M

Di usianya yang 3 tahun, Zahra sudah mulai mengenal sebagian alfabet. Di berbagai kesempatan, Zahra memperhatikan tulisan (huruf-huruf) yang dia lihat di t-shirt, koran, buku, dan lainnya. Di beberapa kesempatan, Zahra juga memperhatikan grafiti (coretan di tembok) di dekat masjid sekitar rumah kami.

Zahra : "Mah, 'A'..... AGUS!" (sambil menunjuk huruf A)
Mamah : "Oh iya....! Kalau Zahra yang mana?"
Zahra : "...'Z'.... ZAHRA!" (sambil menunjuk huruf Z)
Beberapa detik kemudian...
Zahra : "...'H'..... MAMAH!"
Mamah : (senyum geli)


Zahra & Semangka

Zahra sangat menyukai buah-buahan. Siang tadi Zahra dan bapak pulang membawa semangka besar berwarna merah segar.

Zahra : "Mah, mamah mau mangga...?"
Mamah : "Lho, Zahra beli mangga juga?"
Zahra : "Itu loh.... WATERMELON."
Mamah : "Ooh.... SEMANGKA."
Zahra : "Iya, SEMANGGA."

Mamah : "Bukan semangga...tapi SE-MANG-KA." Lalu mendikte Zahra, "SE..."

Zahra : "SE...."

Mamah : " MANG..."

Zahra : "MANG..."

Mamah : "KA..."

Zahra : "KA...."

Mamah : "SE-MANG-KA"

Zahra : "SEMANGGA!"
Mamah : "Hoaaahaha....! &@):}6^$$&*>"


Photo by Zahra (serius loh, tuuh ada kakinya keliatan)



Celoteh Zahra (3)

Tau lagu "Where is Thumbkin" yang liriknya begini ?

Where is thumbkin, where is thumbkin...
Here I am, here I am
How are you today, sir?
Very well, fine (or Wayne?), thank you...
Have a nice day, have a nice day

Dengan irama yang sama, buat Zahra, lagu tersebut diganti mama menjadi :

Where is Zahra, where is zahra...
Here I am, here I am...
Assalamu'alaikum, wa'alaikumsalam...
Alhamdulillah, alhamdulillah...

Zahra sih dia tetep hepi lagu versi mama (yang sebenernya dapet dari internet), apalagi menyanyinya dengan memainkan jemari. Tapi sepertinya karena sebelumnya Zahra udah tau lirik aslinya, mungkin dia ngeh juga kalau ada perubahan. Barusan, sambil sarapan pagi, Zahra bikin versinya sendiri :

Daddy...where you go...where you go...
Daddy is working...mama is sleeping*
Zahra is eating....Zahra is eating....

(*Gubrak MODE ON)





Celoteh Zahra (2)

Hari ini Zahra (3 tahun) bermain ulat yang mama temukan diantara tangkai-tangkai bayam. Ulat itu kemudian dipindahkan Zahra ke dalam mangkuk kecil. Seumur hidupnya, baru kali ini Zahra melihat langsung bentuk ulat. Zahra hanya tahu ulat melalui gambar di buku balitanya.

Zahra : "Maa...., ssss... (meniru desis ular). SNAKE !"
Mama : "Bukan, sayang. Itu ULAT, cartepilar; bukan ULAR. Kalo snake itu ULAR."
Zahra : "Ulat?"
Mama : "Ya...Kalo ulat tidak ada suaranya; kalo ular ada suaranya."

Kemudian ulat yang ada di dalam mangkuk, Zahra tinggalkan di dapur. Setelah beberapa saat Zahra kembali ke dapur.

Zahra : "Ma, mama sedang apa...?"
Mama : "Sedang potong sayur."
Zahra : "Potong sayur untuk apa?"
Mama : "Untuk bikin bala-bala..."
Zahra : "SPIDER....??"
Mama : "Bala-bala, sayang..... Bukan LABA-LABA....."
Zahra : "Bala-bala...??"
Mama : "Bakwan...bakwan...."
Zahra : "Oohh....BAWANG....."
Mama : "Hoaaahhh.....!!! #%:@*%{"#?/<%(

"Apu!"

Seiring dengan perkembangan Zahra, banyak ulah dan ucapan si kecilku ini yang menggelitik. Terlalu singkat yang bisa ditulis dibandingkan dengan menyaksikan langsung detik demi detik tingkah polah permata hatiku ini.

Zahra : Mah, apu!
Mamah : "Open", sayang...bukan "apu"
Zahra : Apu!
Mamah : "Ooo...!" (sambil monyong mencontohkan)
Zahra : "Ooo...!" (monyong juga meniru mamah)
Mamah : "Penn..!"
Zahra : "Penn..!" (meniru)
Mamah : "Ooo....pen...! Open!"
Zahra : (dengan lantang dan pede) APU!"

Sampai saat ini, Zahra sadar bahwa "apu" adalah kata yang salah. Kalau sedang 'ngeh', Zahra hanya bilang, "Maah...ooo" sambil monyong-monyong. Demi melatih ucapan yang tepat, dialog di atas sering terjadi, dan ujung-ujungnya Zahra tetap mengatakan "Apu" (instead of "open") dan tertawa sambil menutup mulut atau kedua matanya dengan tangannya karena malu.

31 Maret 2009
-Ummu Zahra-

***

Susahnya Cari Parkir di Qatar

[Katarsis MODE ON]

Entah karena makmur atau fasilitas transportasi publik yang belum menunjang, jumlah kendaraan pribadi di Qatar sangat banyak. Semua keluarga hampir dapat dipastikan memiliki setidaknya sebuah mobil pribadi (ini kata saya loh karena saya tidak punya data statistik). Hal ini berdampak salah satunya pada sulitnya mendapat parkir di kawasan bisnis, perkantoran, bahkan pemukiman pada jam-jam tertentu. Untuk yang sudah tinggal beberapa lama di Qatar, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kondisi ini. Rebutan area parkir sudah hal lumrah, bahkan tidak jarang kita harus menarik urat leher alias adu mulut dengan pemilik kendaraan lain yang merasa lebih berhak mendapat tempat parkir itu. Kalo orang Indonesia, kayaknya kebanyakan ngalah. Entah karena budaya "nrimo"-nya, atau apa entahlah. Tapi kalo lawan saing adalah orang Arab, terlebih Qatari, sepertinya kita emang kalah ngotot. Lagian, males juga 'kan kalo yang diajak berantem gak bisa bahasa Inggris? Nah, kalo kita bilang, "Emang ini tanah moyang elo?!" Lha.....emang nyatanya ini tanah moyang mereka kok.... Bingung 'kan?

Ada juga bangsa tertentu yang sudah diketahui secara umum sering bertindak menyebalkan. Kadang yang mereka lakukan sangat ajaib dan so unbelievable. Nah, kita masih bisa tuh adu mulut sama mereka. Tapi tetep juga gak ada manfaatnya karena udah 'ndablek' dari 'sononya'. Saya sendiri suka heran begitu kurang pekanya orang-orang dari bangsa itu terhadap kepentingan orang lain. Tidak pernahkah mereka mencoba memposisikan diri pada posisi orang lain...? Tidak sedikit pun terlihat atau menyesal meski mereka jelas-jelas salah.

Pengemudi yang "sopan" biasanya TST (tau sama tau) ketika sebuah mobil meninggalkan satu area parkir lalu mobil mana yang lebih dulu antri ato 'ngetek' parkiran itu. Dari "bahasa tubuh" mobil sebenarnya kita bisa tahu itu. Tapi bangsa yang satu ini memang suka sedikit keterlaluan. Hanya karena posisi mobilnya 'pewe' (PW = posisi wuenak) alias strategis/pas, dia ambil parkiran itu. Tak segan dengan melanggar marka/rambu jalan, misalnya dari arah yang bukan seharusnya. Walhasil, mobil yang sudah 'ngetek' tadi keduluan. Si empunya mobil pun ngamuk-ngamuk karena dia sudah muter-muter setengah mati cari parkiran dan bersabar antri demi sebuah parkiran kosong sementara si lawan saing dengan mudahnya mengambil haknya dengan cara yang tidak etis. Kalo sudah begitu, perang mulut pun berkobar. Tatat tetet klakson mobil lain pun mampu memanaskan suasana. Belum lagi summer hot-hotnya. Lengkap sudah penderitaan. Maklum, mobil-mobil lain yang mau lewat pun jadi terblokir sama tuan-tuan mobil yang lagi asyik terlibat adu mulut.

....

Itulah salah satu ujian? Kok bisa? Ya, bisa dong. Bukankah setiap kenikmatan dan kesusahan pada hakekatnya adalah ujian? Tak terkecuali dalam mencari parkir! Terpikirkanlah oleh kita bahwa kuncinya adalah tawakal? Secara sederhana (dalam bahasa saya), tawakal adalah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah. Maka untuk masalah "sepele" pun (cari parkir) kita harus tawakal, pasrah pada Allah. Bukan berarti tanpa usaha lowh.... Tetap berusaha, namun dengan memberikan hak orang lain sebagaimana mestinya dan menempatkan sesuatu pada tempatnya (adil). Kalo hanya karena posisi mobil kita 'pewe' trus kita merebut parkiran yang sudah diantriin orang lain, itu namanya kita merampas hak dia. Jika orang yang kita rampas haknya tidak ikhlas, maka berdosalah kita padanya. Terlebih jika dia adalah seorang muslim, karena haram hukumnya menyakiti saudara seiman kita baik secara fisik maupun batin. Maka jika selamanya kita tidak minta maaf ato dia tetap tidak ridha atas tindakan kita, maka kita menanggung dosa sampai hari pembalasan kelak....(iih....seyeeem...)

Belum lagi makian dan cacian yang seolah menjadi satu kesatuan dalam suatu adu mulut. Bertambahlah dosa kita....

Pelanggaran aturan, marka/rambu jalan, etika berkendaraan.....adalah bentuk kezhaliman yang lain... (zhalim = tidak adil, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya). Zhalim terhadap pemerintah, jika peraturan itu dibuat pemerintah. Bukankah kita diperintahkan untuk taat pada pemimpin selama apa yang diperintahkan itu tidak dalam rangka bermaksiat pada Allah dan rasul-Nya? Zhalim terhadap manajemen gedung, jika peraturan dibuat oleh manajemen gedung; Zhalim terhadap pengendara/pengguna fasilitas lain karena bisa jadi jalan yang seharusnya menjadi hak mereka kita rampas secara tidak adil.... Belum lagi jika orang-orang yang terzhalimi itu mengutuk, "You stupid, idiot, moron !!" Nah loh.....kalo 10 orang yang terzhalimi mengutuk kita dengan "stupid, idiot, moron", apa jadinya....?? Naudzubillah....

Sabarlah. Rezeki Allah-lah yang Mengatur. Kita dapat tempat parkir, itu rezeki. Kita tidak dapat di tempat parkir, berarti rezeki kita ada di tempat lain. Anggap saja masalah parkir ini "jodoh-jodohan". Kalo emang jodoh, takkan lari kemana... Menghalalkan segala cara demi sebuah tempat parkir adalah salah satu bentuk keraguan kita pada rezeki yang Allah sudah tetapkan bagi setiap orang. Jangan sampai gara-gara mengejar diskon di mall, dosa bertubi-tubi pun kita lakukan tanpa kita sadari. Astagfirullah.....

Tawakal.... dan nantikan "keajaiban" yang mungkin bisa kita alami.... pertolongan Allah dalam mendapatkan tempat parkir di Qatar ini....

Sepele, namun serius....

Doha, 20 Juamdil Akhir 1431 H / 3 Juni 2010

-Ummu Zahra-

*nu keur nyareuri awak teuing kunaon....

[Katarsis MODE OFF]


****

Kayaknya pernah ada tulisan/note yang saya baca tentang pengalaman menarik seputar rebutan parkiran di Qatar. Cuma saya tidak ingat, note-nya siapa. Note-nya sangat menarik. Jadi geli sendiri bacanya...

Celoteh Zahra

Masih Loading

Mama : "Zahra, sudah belum eeknya....?"
Zahra : "Belum, maa....! Masih loading...."



Manusia atau Binatang?

Zahra belajar mengenal mahluk hidup di taxi : "Mah, uncle taxi (supir taxi), manusia atau binakan*?"

Zahra belajar sambil nonton VCD : "Mah, teletubbies manusia atau binakan*?"

*binakan = binatang (Zahra belum bisa bilang "binatang").



Sudah Basi

Zahra : "Mah, aku mau naik kuda..."
Mama : " Zahra 'kan sudah pernah naik keledai di kebun binatang. Tapi sudah lama. Ingat gaak...?"
Zahra : "Sudah lama? Sudah basi ya?"
Hehehehe....



Ngotot dot com

Zahra : "Mama boy or girl?"
Mama : "Mama is a woman..."
Zahra : (marah) "Gak mau !!! Mama girl !!!"
Mama : "When I was little, I was a girl. Now I am a woman. Waktu mama kecil seperti Zahra, mama anak perempuan (girl), trus mama makan banyak jadi tambah besar...besar...tambah tinggi. Then I become I woman..."
Zahra : "Gak mauuu !!! Mama girlllllllllllll !!!
Ngotot.com....


Belajar Berhitung

Zahra : "one, two, three, four, fai*, six, seben*, eight, nine, ten, eleven, twelve, fourteen, sebenteen*, eighteen, nineteen, twenty, ONE HUNDREDS !!!"

* Fai = five
Seben = seven
Sebenteen = seventeen donk ah



Kok Gak Pulang-Pulang?

Sekitar jam 17.15 bapak pamit berangkat kerja malam, "Zahra, bapak kerja dulu ya...."

Kurang lebih 1 jam kemudian...

Zahra : "Mah, bapak mana?"
Mama : "Bapak kerja, Zahra..."
Zahra : "Kok bapak gak pulang-pulang...??"
Mama : *gubrak*


.......... Dan masih banyak lagi celoteh Zahra ^_^