Celoteh Zahra* (11)
Tidak Mau Kayak Nenek-nenek

Suatu pagi di summer holiday 2011...
Celoteh Zahra (10) : Teteup....Ingin Jadi Mamah
Waktu-waktu Bersama Zahra (3) - Main Sekolah-sekolahan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
Setelah itu, barulah mamah bercerita. Di kisah Nabi Sulaiman ini, mamah lebih menekankan pada Tauhid, yaitu wajibnya kita menyembah Allah dan berdoa kepada-Nya saja. Metoda bercerita ini diselingi dengan tanya-jawab interaktif dengan Zahra. Alhamdulillah, Zahra sangat bersemangat dengan kegiatan ini hingga main sekolah-sekolahan selesai pun, mamahnya masih dipanggil ustadzah ^_^
[*] Pelajaran penting dari khutbatul hajah bisa dibaca di sini.
Foto koleksi pribadi
Waktu-waktu Bersama Zahra (2)
Waktu-waktu Bersama Zahra

Celoteh Zahra (9) : Membuat Donat
Salah satu aktivitas yang Zahra (4 tahun) sukai adalah membantu mamah di dapur, terutama saat membuat kue. Mamah bukanlah orang yang rajin dan pandai membuat kue. Tapi sesekali (jarang) mencoba membuat pizza dan donat. Tentunya Zahra suka mencampur bahan-bahannya dan mengacak-acak adonannya. Kalau sudah siap, Zahra melatih diri membentuk adonan tersebut menjadi bulat pipih (untuk pizza) dan bulat berlubang (untuk donat).
"Terima kasih, mamah, sudah tidak membuat Zahra sedih lagiii....!" teriak Zahra dengan riang dan penuh kebahagiaan. Terpancar senyuman yang indah ke arah mamah dengan mata berbinar-binar.
Celoteh Zahra (8) : Ingin Jadi Mamah

Tadi malam, Zahra (4 tahun) diajak bapak pergi belanja ke Almeera. Pulang dari Almeera, bapak cuci piring, lalu membersihkan ikan-ikan yang bapak beli di Almeera untuk kemudian dimasukkan ke dalam freezer di dalam kantung-kantung plastik khusus.
Celoteh Zahra (7)

Si "Kurus" dan Si Cantik
Celoteh Zahra (6)

Pagi itu, sambil 'nongkrong' di kloset, Zahra bertanya,
Zahra : "Mah, bapak kemana?"
Mamah : "Bapak kerja."
Zahra : "Kok bapak gak mandi?"
Mamah : "Sudah, tadi waktu Zahra masih bobo."
Zahra : "Gak makan dulu...??"
Mamah : "Nanti di pabrik makannya."
Zahra : "Kenapa gak makan dulu (di rumah)....?"
Mamah : "Buru-buru. Nanti terlambat...."
Zahra : "Terlambat apa...?"
Mamah : "Terlambat kerja."
Zahra : "Nanti orang-orangnya sudah pada pulang....??"
Mamah : "Tidak. Orang-orangnya belum pada pulang..."
Zahra : "Terlambat apa, mah...?" (tampaknya Zahra masih belum ngerti)
Mamah : "Ya, terlambat kerja. Kesiangan...."
(Zahra ternyata lebih menangkap kata 'kesiangan', sehingga dia beralih ke pertanyaan lain)
Zahra : "Di pabrik ada makanan apaa....??" (rupanya 'nyambung' dengan pembicaraan awal tentang sarapan)
Mamah : "Ada"
Zahra : "Di pabrik ada mainan...??"
Mamah : "Ya tidak ada. Pabrik 'kan bukan tempat untuk anak-anak..."
Zahra : "Tapi dulu dulu Zahra main di pabrik..."
Mamah : "Tidak. Zahra belum pernah ke pabrik. Mamah juga belum pernah ke pabrik...."
(Dan Zahra pun terlihat berpikir keras seolah mencoba memahami seperti apa pabrik tempat bapak bekerja)
Celoteh Zahra (5)

Pesan Zahra Untuk Bapak
Beberapa waktu yang lalu, bapaknya Zahra secara tidak sengaja menabrak seekor kucing yang menyeberang di dekat rumah, tepatnya di Ibnu Katheer Street. Dengan penuh penyesalan, bapak membuat "pengakuan dosa" kepada Zahra. Zahra (3 tahun 10 bulan) tampak sedih. Namun insyaAllah gadis kecil ini tampaknya memahami bahwa itu adalah sebuah kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja dan dia tidak seharusnya marah kepada bapaknya itu.
Beberapa waktu berselang, sewaktu kami pulang dari perjalanan dan sudah sampai di depan rumah, Zahra berkata, "Pa, kalo nyetir hati-hati ya. Kalo ada kucing, berhenti. Kucingnya jangan ditabrak lagi. Kasihan, nanti kucingnya mati..."
Aah, Zahra.... (senyum).
****
Pesan Zahra Untuk Mamah
Belakangan ini fire alarm di gedung kami beberapa kali berbunyi tanpa sebab. Hal yang sama terjadi di suatu pagi, saat Zahra hendak berangkat mandi, alarm kembali bunyi. Selang beberapa detik kemudian, alarm berhenti berbunyi. Sebelum berangkat sekolah, Zahra berpesan pada mamah,
Zahra : "Mah, kalo alarmnya bunyi, mamah turun ya lewat tangga."
Mamah : "Kalo Zahra di sekolah?"
Zahra : "Mamah turun sendiri. Tidak usah takut, 'kan ada Allah...."
Mamah : (senyum)
Kalo Zahra Nyanyi
Suala mobilkuuu...

Nyetil sendiliii...Distop pak polisi
Haalus belentiii... *)
Celoteh Zahra (4)
Mamah : "Bukan semangga...tapi SE-MANG-KA." Lalu mendikte Zahra, "SE..."
Zahra : "SE...."
Mamah : " MANG..."
Zahra : "MANG..."
Mamah : "KA..."
Zahra : "KA...."
Mamah : "SE-MANG-KA"
Celoteh Zahra (3)
Celoteh Zahra (2)
Zahra : "Maa...., ssss... (meniru desis ular). SNAKE !"
Mama : "Bukan, sayang. Itu ULAT, cartepilar; bukan ULAR. Kalo snake itu ULAR."
Zahra : "Ulat?"
Mama : "Ya...Kalo ulat tidak ada suaranya; kalo ular ada suaranya."
Kemudian ulat yang ada di dalam mangkuk, Zahra tinggalkan di dapur. Setelah beberapa saat Zahra kembali ke dapur.
Zahra : "Ma, mama sedang apa...?"
Mama : "Sedang potong sayur."
Zahra : "Potong sayur untuk apa?"
Mama : "Untuk bikin bala-bala..."
Zahra : "SPIDER....??"
Mama : "Bala-bala, sayang..... Bukan LABA-LABA....."
Zahra : "Bala-bala...??"
Mama : "Bakwan...bakwan...."
Zahra : "Oohh....BAWANG....."
Mama : "Hoaaahhh.....!!! #%:@*%{"#?/<%(
"Apu!"
Zahra : Mah, apu!
Mamah : "Open", sayang...bukan "apu"
Zahra : Apu!
Mamah : "Ooo...!" (sambil monyong mencontohkan)
Zahra : "Ooo...!" (monyong juga meniru mamah)
Mamah : "Penn..!"
Zahra : "Penn..!" (meniru)
Mamah : "Ooo....pen...! Open!"
Zahra : (dengan lantang dan pede) APU!"
Sampai saat ini, Zahra sadar bahwa "apu" adalah kata yang salah. Kalau sedang 'ngeh', Zahra hanya bilang, "Maah...ooo" sambil monyong-monyong. Demi melatih ucapan yang tepat, dialog di atas sering terjadi, dan ujung-ujungnya Zahra tetap mengatakan "Apu" (instead of "open") dan tertawa sambil menutup mulut atau kedua matanya dengan tangannya karena malu.
31 Maret 2009
-Ummu Zahra-
***
Susahnya Cari Parkir di Qatar
Entah karena makmur atau fasilitas transportasi publik yang belum menunjang, jumlah kendaraan pribadi di Qatar sangat banyak. Semua keluarga hampir dapat dipastikan memiliki setidaknya sebuah mobil pribadi (ini kata saya loh karena saya tidak punya data statistik). Hal ini berdampak salah satunya pada sulitnya mendapat parkir di kawasan bisnis, perkantoran, bahkan pemukiman pada jam-jam tertentu. Untuk yang sudah tinggal beberapa lama di Qatar, tentunya sudah tidak asing lagi dengan kondisi ini. Rebutan area parkir sudah hal lumrah, bahkan tidak jarang kita harus menarik urat leher alias adu mulut dengan pemilik kendaraan lain yang merasa lebih berhak mendapat tempat parkir itu. Kalo orang Indonesia, kayaknya kebanyakan ngalah. Entah karena budaya "nrimo"-nya, atau apa entahlah. Tapi kalo lawan saing adalah orang Arab, terlebih Qatari, sepertinya kita emang kalah ngotot. Lagian, males juga 'kan kalo yang diajak berantem gak bisa bahasa Inggris? Nah, kalo kita bilang, "Emang ini tanah moyang elo?!" Lha.....emang nyatanya ini tanah moyang mereka kok.... Bingung 'kan?
Ada juga bangsa tertentu yang sudah diketahui secara umum sering bertindak menyebalkan. Kadang yang mereka lakukan sangat ajaib dan so unbelievable. Nah, kita masih bisa tuh adu mulut sama mereka. Tapi tetep juga gak ada manfaatnya karena udah 'ndablek' dari 'sononya'. Saya sendiri suka heran begitu kurang pekanya orang-orang dari bangsa itu terhadap kepentingan orang lain. Tidak pernahkah mereka mencoba memposisikan diri pada posisi orang lain...? Tidak sedikit pun terlihat atau menyesal meski mereka jelas-jelas salah.
Pengemudi yang "sopan" biasanya TST (tau sama tau) ketika sebuah mobil meninggalkan satu area parkir lalu mobil mana yang lebih dulu antri ato 'ngetek' parkiran itu. Dari "bahasa tubuh" mobil sebenarnya kita bisa tahu itu. Tapi bangsa yang satu ini memang suka sedikit keterlaluan. Hanya karena posisi mobilnya 'pewe' (PW = posisi wuenak) alias strategis/pas, dia ambil parkiran itu. Tak segan dengan melanggar marka/rambu jalan, misalnya dari arah yang bukan seharusnya. Walhasil, mobil yang sudah 'ngetek' tadi keduluan. Si empunya mobil pun ngamuk-ngamuk karena dia sudah muter-muter setengah mati cari parkiran dan bersabar antri demi sebuah parkiran kosong sementara si lawan saing dengan mudahnya mengambil haknya dengan cara yang tidak etis. Kalo sudah begitu, perang mulut pun berkobar. Tatat tetet klakson mobil lain pun mampu memanaskan suasana. Belum lagi summer hot-hotnya. Lengkap sudah penderitaan. Maklum, mobil-mobil lain yang mau lewat pun jadi terblokir sama tuan-tuan mobil yang lagi asyik terlibat adu mulut.
....
Itulah salah satu ujian? Kok bisa? Ya, bisa dong. Bukankah setiap kenikmatan dan kesusahan pada hakekatnya adalah ujian? Tak terkecuali dalam mencari parkir! Terpikirkanlah oleh kita bahwa kuncinya adalah tawakal? Secara sederhana (dalam bahasa saya), tawakal adalah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah. Maka untuk masalah "sepele" pun (cari parkir) kita harus tawakal, pasrah pada Allah. Bukan berarti tanpa usaha lowh.... Tetap berusaha, namun dengan memberikan hak orang lain sebagaimana mestinya dan menempatkan sesuatu pada tempatnya (adil). Kalo hanya karena posisi mobil kita 'pewe' trus kita merebut parkiran yang sudah diantriin orang lain, itu namanya kita merampas hak dia. Jika orang yang kita rampas haknya tidak ikhlas, maka berdosalah kita padanya. Terlebih jika dia adalah seorang muslim, karena haram hukumnya menyakiti saudara seiman kita baik secara fisik maupun batin. Maka jika selamanya kita tidak minta maaf ato dia tetap tidak ridha atas tindakan kita, maka kita menanggung dosa sampai hari pembalasan kelak....(iih....seyeeem...)
Belum lagi makian dan cacian yang seolah menjadi satu kesatuan dalam suatu adu mulut. Bertambahlah dosa kita....
Pelanggaran aturan, marka/rambu jalan, etika berkendaraan.....adalah bentuk kezhaliman yang lain... (zhalim = tidak adil, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya). Zhalim terhadap pemerintah, jika peraturan itu dibuat pemerintah. Bukankah kita diperintahkan untuk taat pada pemimpin selama apa yang diperintahkan itu tidak dalam rangka bermaksiat pada Allah dan rasul-Nya? Zhalim terhadap manajemen gedung, jika peraturan dibuat oleh manajemen gedung; Zhalim terhadap pengendara/pengguna fasilitas lain karena bisa jadi jalan yang seharusnya menjadi hak mereka kita rampas secara tidak adil.... Belum lagi jika orang-orang yang terzhalimi itu mengutuk, "You stupid, idiot, moron !!" Nah loh.....kalo 10 orang yang terzhalimi mengutuk kita dengan "stupid, idiot, moron", apa jadinya....?? Naudzubillah....
Sabarlah. Rezeki Allah-lah yang Mengatur. Kita dapat tempat parkir, itu rezeki. Kita tidak dapat di tempat parkir, berarti rezeki kita ada di tempat lain. Anggap saja masalah parkir ini "jodoh-jodohan". Kalo emang jodoh, takkan lari kemana... Menghalalkan segala cara demi sebuah tempat parkir adalah salah satu bentuk keraguan kita pada rezeki yang Allah sudah tetapkan bagi setiap orang. Jangan sampai gara-gara mengejar diskon di mall, dosa bertubi-tubi pun kita lakukan tanpa kita sadari. Astagfirullah.....
Tawakal.... dan nantikan "keajaiban" yang mungkin bisa kita alami.... pertolongan Allah dalam mendapatkan tempat parkir di Qatar ini....
Sepele, namun serius....
Doha, 20 Juamdil Akhir 1431 H / 3 Juni 2010
-Ummu Zahra-
*nu keur nyareuri awak teuing kunaon....
[Katarsis MODE OFF]
****
Kayaknya pernah ada tulisan/note yang saya baca tentang pengalaman menarik seputar rebutan parkiran di Qatar. Cuma saya tidak ingat, note-nya siapa. Note-nya sangat menarik. Jadi geli sendiri bacanya...
Celoteh Zahra
Mama : "Zahra, sudah belum eeknya....?"
Zahra : "Belum, maa....! Masih loading...."
Manusia atau Binatang?
Zahra belajar mengenal mahluk hidup di taxi : "Mah, uncle taxi (supir taxi), manusia atau binakan*?"
Zahra belajar sambil nonton VCD : "Mah, teletubbies manusia atau binakan*?"
*binakan = binatang (Zahra belum bisa bilang "binatang").
Sudah Basi
Zahra : "Mah, aku mau naik kuda..."
Mama : " Zahra 'kan sudah pernah naik keledai di kebun binatang. Tapi sudah lama. Ingat gaak...?"
Zahra : "Sudah lama? Sudah basi ya?"
Hehehehe....
Ngotot dot com
Zahra : "Mama boy or girl?"
Mama : "Mama is a woman..."
Zahra : (marah) "Gak mau !!! Mama girl !!!"
Mama : "When I was little, I was a girl. Now I am a woman. Waktu mama kecil seperti Zahra, mama anak perempuan (girl), trus mama makan banyak jadi tambah besar...besar...tambah tinggi. Then I become I woman..."
Zahra : "Gak mauuu !!! Mama girlllllllllllll !!!
Ngotot.com....
Belajar Berhitung
Zahra : "one, two, three, four, fai*, six, seben*, eight, nine, ten, eleven, twelve, fourteen, sebenteen*, eighteen, nineteen, twenty, ONE HUNDREDS !!!"
* Fai = five
Seben = seven
Sebenteen = seventeen donk ah
Kok Gak Pulang-Pulang?
Sekitar jam 17.15 bapak pamit berangkat kerja malam, "Zahra, bapak kerja dulu ya...."
Kurang lebih 1 jam kemudian...
Zahra : "Mah, bapak mana?"
Mama : "Bapak kerja, Zahra..."
Zahra : "Kok bapak gak pulang-pulang...??"
Mama : *gubrak*
.......... Dan masih banyak lagi celoteh Zahra ^_^