Mengecek Kemampuan Bicara Anak Sesuai Usia





Orangtua terkadang bingung karena pada usia tertentu anaknya belum bisa berbicara. Hal ini membuat orangtua bertanya apakah kondisi tersebut masih terbilang normal atau justru menandakan adanya gangguan.

Ike R Sugianto, Psi, seorang psikolog anak menuturkan untuk mengetahui apakah anak mengalami gangguan bicara atau tidak perlu diperhatikan tahapan dari perkembangan bicara anak. Berikut ini tahapan perkembangan bicara dan bahasa yang dialami anak yaitu:


Usia 0-6 bulan


Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Cooing (suara yang tidak beraturan)
  2. Menoleh ke sumber bunyi atau berhenti menangis kalau mendengar suara
  3. Adanya kontak mata untuk mengikuti gerakan benda

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Berbicara pada bayi dengan penuh atensi
  2. Menggunakan intonasi yang menarik
  3. Berkomunikasi misalnya bermain cilukba atau bernyanyi saat melakukan aktivitas bersama seperti pada waktu makan, mandi atau ganti popok.


Usia 6-12 bulan

Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Babbling atau pengulangan suku kata yang sama seperti mamama atau bababa
  2. Meningkatnya pemahaman atas kegiatan sehari-hari
  3. Ada echolalia (membeo) mulai dari 3-5 kata

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan respons pada ocehan yang dikeluarkan si kecil
  2. Menggunakan kalimat pendek dengan tempo lambat dan 1 bahasa


Usia 12 Bulan

Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Mengenali nama sendiri
  2. Memahami instruksi sederhana seperti kiss bye atau dagh-dagh
  3. Kata pertama sebanyak 5-6 kata

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan tanda pada setiap tindakan


Usia 18 bulan

Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 10-20 kata termasuk nama-nama orang
  2. Menyebutkan nama obyek dari foto atau gambar
  3. Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 2 kata
  4. Mulai mengungkapkan keinginannya seperti ‘minta’ atau ‘permen’
  5. Mampu bertanya dengan kalimat sederhana seperti ‘mana bola?’
  6. Menggunakan bahasa non-verbal seperti menunjuk, bersenandung

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memberikan kata yang berulang-ulang
  2. Menjelaskan apa yang sedang ditonton si kecil
  3. Memberikan pujian


Usia 24 bulan

Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami pertanyaan dan perintah sederhana
  2. Memahami instruksi yang lebih luas
  3. Lebih banyak menggunakan penggabungan dua kata dan menggunakan kalimat yang lebih panjang (3 kata)
  4. Anak menunjuk dirinya sendiri dengan nama
  5. Mulai menggunakan kata negatif seperti ‘tidak pergi’ atau ‘jangan’
  6. Memahami minimal 50 kata
  7. Bertahan mengikuti aktivitas selama 6-7 menit

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Memperluas penggunaan kata baru
  2. Memperjelas arti suatu kata dengan menggunakan bahasa tubuh dan intonasi
  3. Menggunakan percakapan sederhana
  4. Merangsang anak dengan pertanyaan sederhana lalu tunggu respons dari anak selama 10 detik
  5. Membaca buku dengan kalimat yang berulang-ulang dan sederhana
  6. Memberikan permainan dengan instruksi seperti ‘Pegang hidung’ atau anggota tubuh lainnya


Usia 30 bulan


Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 400-800 kosa kata
  2. Mampu menyebutkan nama depan
  3. Bisa menggabungkan antara kata kerja dan kata benda
  4. Mampu menyebut 7 anggota tubuh
  5. Mulai bisa membedakan barang berdasarkan bagian atau fungsinya seperti ‘mana yang punya roda’ atau ‘yang mana yang bisa dipakai untuk makan’
  6. Bisa memahami konsep besar dan kecil

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Membaca cerita dan menjawab pertanyaan sederhana


Usia 3 tahun


Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Paling sedikit mampu menyebutkan 1 warna
  2. Sering berbicara waktu bermain atau saat sedang sendiri
  3. Bisa menceritakan sebuah cerita sederhana
  4. Bisa menggunakan 3-4 kalimat
  5. Memahami kalimat seperti ‘Coba tunjuk yang mana bintang’
  6. Memahami 900-1.500 kosa kata
  7. Menggunakan kata tanya seperti mengapa dan apa

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 3-4 kata
  2. Membicarakan kegiatan sehari-hari
  3. Bermain dengan teman sebayanya


Usia 4 tahun


Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Mamahami 1.500-2.000 kosa kata
  2. Memahami kata jika, karena atau siapa
  3. Menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat
  4. Mulai menggunakan struktur bahasa yang rapi
  5. Memberikan artikulasi yang lebih jelas
  6. Mampu mengikuti perintah 2-3 langkah

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mengunjungi kebun binatang atau sebuah pertunjukkan
  2. Berbicara dengan kalimat atau membacakan cerita yang lebih panjang


Usia 5 Tahun


Perkembangan bicara dan bahasa:

  1. Memahami 2.500-2.800 kosa kata
  2. Mendefinisikan obyek berdasarkan fungsinya
  3. Terkadang masih bingung antara kemarin, dulu atau besok
  4. Mampu bertukar informasi, bisa menjawab telepon dan menghubungkan cerita
  5. Menggunakan 5-6 kata dalam satu kalimat

Stimulasi yang bisa diberikan:

  1. Mendengarkan apa yang diucapkan anak
  2. Memberi kesempatan bagi anak untuk mengutarakan perasaannya

Jika anak belum mencapai tahapan tersebut ada kemungkinan anak mengalami gangguan bicara. Namun ada beberapa faktor yang terkait dengan gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak seperti:

  1. Gangguan pendengaran
  2. Gangguan pemrosesan sensorik
  3. Kelainan organ bicara
  4. Bingung bahasa (bilingual)
  5. Selective autism
  6. Perkembangan otak yang kurang optimal
  7. Indikasi adanya gangguan yang lebih serius seperti keterbelakangan mental atau gangguan spektrum autis.

Untuk mengetahui apakah ada gangguan tersebut atau tidak, orangtua bisa melakukan beberapa pemeriksaan seperti ke dokter THT dan pemeriksaan tumbuh kembang dengan ahli terapis wicara, psikolog, psikiater, dokter anak.

“Jika memang diketahui adanya gangguan, maka pemilihan terapi yang diberikan sangat tergantung dengan faktor terkait tersebut dan juga kondisi anak.

Meski demikian ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dan guru yaitu:

  1. Memperbanyak waktu untuk bermain bersama
  2. Mengikuti minat dan masuk ke dalam dunia anak, baru secara perlahan mengarahkan anak
  3. Menggunakan 1 bahasa terlebih dahulu sehingga anak tidak bingung
  4. Menggunakan tempo bicara yang sedang
  5. Menggunakan kalimat pendek seperti 1-2 kata
  6. Memperbanyak ekspresi yang seru seperti ‘Wow ! Oh-oo’
  7. Meminta respons timbal balik dari anak mulai dari hal yang bisa dilakukannya seperti tos, cium atau mengangguk
  8. Memberikan jeda 5 detik antar kalimat pengulang
  9. Menggunakan alat bantu visual

Kasih Sayang Zahra

Anak yang penuh kasih sayang. Begitulah Zahra di usianya menjelang 4 tahun....

1. Jika melihat temannya menangis, Zahra segera menghiburnya dengan kata-kata yang baik, memandang wajahnya sambil tersenyum. Apabila temannya itu menangis akibat perbuatannya, Zahra segera melakukan tindakan koreksi atau langsung meminta maaf.

2. Tak segan-segan Zahra mengambilkan tisu untuk teman atau adik kecil yang menangis. Salah satu perilaku Zahra yang dikagumi oleh gurunya di sekolah.

3. Apabila melihat teman kecilnya jatuh, Zahra segera mencoba membantunya (memegang tangannya atau berusaha mengangkatnya).

4. Apabila Zahra mendapat tugas di kelas, maka Zahra terlebih dahulu "memastikan" bahwa teman-temannya bisa mengerjakan tugas tersebut dengan benar, lalu barulah ia menyelesaikan tugasnya.

5. Adakalanya Zahra begitu ingin menunjukkan rasa sayang pada mamanya. Maka di cium saya berkali-kali dalam satu hari.

6. Di saat saya tidur, dibetulkanlah selimut saya, lalu dia cium saya dengan lembut...

7. Walaupun adik babynya masih ada dalam perut, kasih sayang Zahra amat jelas terlihat. Sering dia peluk perut saya dan diciumnya dengan bertubi-tubi. Bahkan mainan bekas pakainya, termasuk baju-bajunya sudah "disisihkan" untuk adik baby.

8. Suatu hari Zahra menemukan kosmetik bayi yg pernah saya beli dan belum terpakai yg sebenarnya milik Zahra. Tentunya, ia terdorong untuk ngoprek barang baru. Tapi setelah saya katakan padanya bahwa itu semua untuk adek baby, Zahra segera memeluk seperangkat kosmetik itu erat-erat lalu menciumnya dengan sangat bahagia, seolah ia sedang membayangkan kehadiran adik baby di tengah-tengah keluarga kami.

9. Zahra juga sering membicarakan tentang calon adek babynya. Membayangkan polahnya, mulai dari menangis, pipis, mandi, merangkak, dll. Dia berjanji akan membantu mama menjaga adek babynya, kecuali di luar kemampuannya.


10. Ketika di awal saya mabuk (pregnancy sickness), Zahra ikut sibuk kesana-kemari. Kadang memeluk saya, kadang mendorong-dorongkan jarinya ke punggung saya (mungkin maksudnya mau mijit...). Zahra pun tak menolak dimintai tolong membalur punggung saya dengan Vicks Vaperub.

11. Kadang-kadang, dielusnya perut saya. Dikatakan pada calon adik babynya, "Adek baby, baik-baik ya (di dalam perut)...."

12. Ketika saya mau berangkat mandi, adakalanya Zahra begitu "berat" berpisah dengan saya. Maka kami pun melakukan "ritual perpisahan" di pintu kamar mandi dengan sebuah pelukan hangat dan ciuman di pipi.

13. Seringkali, sebelum Zahra berangkat tidur (biasanya yang menidurkan Zahra adalah bapaknya), ia akan menghampiri saya, meminta pelukan, kemudian mencium saya. "Selamat tidur, mamah...," begitu katanya. Lalu apabila saya mengatakan, "I love you Zahra...", maka dia pun menjawab, "I love you, mama..." lalu kembali memeluk dan mencium saya.

14. Jika melihat saya menangis, Zahra pun akan ikut menangis meski dia tidak tahu sebabnya.

Dan masih banyak lagi kasih sayang Zahra untuk mamanya. Begitu bahagia mama mendapatkan amanah untuk membesarkan anak baik sepertimu. Doa mama untukmu,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Furqon:74)

Doha, 20 Rabiul Tsani 1432 H / 25 April 2011


Agar Anak Menjadi Pendengar yang Baik


Kemampuan mendengarkan dengan baik merupakan hal yang cukup penting dimiliki seorang anak. Hal ini dapat membantunya untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Jika seorang anak tidak dapat mendengarkan perintah, baik di waktu bermain maupun di sekolah, maka ini bisa menghambat kemampuan belajarnya. Secara sosial pun, anak-anak yang mampu mendengarkan dengan baik akan diuntungkan karena teman-temannya akan menganggap dia sebagai teman yang menyenangkan.

Berikut 7 cara yg dapat kita lakukan untuk membantu anak menjadi seorang pendengar yang baik.

1. Jadilah Pendengar yang Baik Bagi Anak Kita

Jangan potong pembicaraan anak ketika dia sedang bercerita. Berikan perhatian penuh terhadap apa yg dia bicarakan. Mendengarkan anak sambil membaca koran, memainkan telepon genggam, sibuk dengan laptop, atau sambil mengobrol dengan orang lain di waktu yang sama, merupakan contoh yang buruk. Jika kita ingin anak kita mau mendengarkan kita, maka kita pun harus memberi contoh bahwa kita mau mendengarkan apa yang ia katakan. Pada gilirannya, anak pun akan melakukan hal yang sama pada kita.


2. Berikan Perintah yang Jelas dan Sederhana

Kemas perintah yang anda ucapkan dengan sederhana. Gunakan kontak mata, dan katakan, "Sayang, masuk kamar dan rapihkan tempat tidurmu. Lalu, ambil tas sekolahmu dan kembalilah ke sini." Seiring dengan kemampuan anak mendengar dan memahami perintah, kita bisa menambah 1-2 perintah lain di waktu yang sama. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengajarkan anak memahami perintah, namun juga mendidik anak menjadi mandiri.


3. Puji Anak

Puji anak ketika dia mau mendengar perintah dengan baik, "Terima kasih, sayang, sudah mau mendengarkan mama.". Hal ini mendorong anak untuk menjadi pendengar yang baik di saat lain.


4. Apa yang Anda Katakan, Itu yang Anda Lakukan

Jika kita mengatakan, "Kamu boleh makan 2 buah kue," maka artinya kita harus memberikannya dua buah kue, bukan tiga atau empat. Sekali kita melanggar apa yg kita katakan, maka anak pun tidak akan percaya atau tidak mau mendengarkan kita.


5. Konsisten terhadap Konsekuensi yang Diberikan

Jika kita mengatakan bahwa kita akan membatalkan acara belanja jika anak bersikeras berdiri di keranjang dorong, maka lakukanlah tanpa memberi kesempatan (bertoleransi) terhadapnya melakukan hal yang sama berkali-kali. Anak akan patuh kepada kita jika ia tahu dengan pasti dan jelas konsekuensi yang akan dia dapatkan jika ia melanggar apa yang kita perintahkan.


6. Membaca Bersama

Kegiatan membaca bersama akan membantu anak untuk melatih kemampuan mendengar sehingga di sekolah pun dia terlatih untuk mendengarkan gurunya menerangkan atau bercerita. Anak akan mampu duduk dengan tenang dalam waktu yang relatif lama. Tapi jangan sekali-kali memaksanya mendengarkan dongeng atau buku yang ia tidak sukai. Hal ini hanyalah akan mengurangi minat si anak pada kegiatan membaca.