Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Dokter yang Penuh Rahasia



Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.  Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukah anda anak saya sedang kritis? Mana tanggung jawab anda sebagai dokter?”

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, “Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak anda”.

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredakan amarahan si bapak, bahkan suaranya mengguntur, “Anda bilang apa? Tenang!? Sedikit pun anda tidak peduli rupanya, apakah anda bisa tenang jika anak anda yang sekarat? –semoga Allah mengampuni anda– apa yang akan anda lakukan jika anak anda meninggal?”.

Sambil tetap mengulas semyum dokter menanggapi, “Bila anak saya meninggal saya akan mengucapkan seperti yang difirmankan Allah:

 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka mengatakan, ‘Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”.

Dokter itu melanjutkan, “Adakah ucapan belasungkawa yang lain bagi orang beriman?

Maaf Pak, dokter tidak dapat memperpanjang usia tidak juga dapat memendekkannya; Usia di tangan Allah. Dan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan putra anda. Hanya saja kondisi anaknya kelihatannya cukup parah, oleh karena itu jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan ucapkanlah ‘inna lillahi wa`inna ilaihi raji’un. Saran saya, sebaiknya anda pergi ke mushalla rumah sakit untuk melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar Ia menyelamatkan anak anda,” tambahnya.

Laki-laki orang tua pasien menanggapi dengan sinis, “Nasehat itu memang mudah, apalagi untuk orang yang tidak punya hubungan dengan anda”.

Sang dokter segera berlalu masuk ruangan operasi. Operasi berlangsung beberapa jam, lalu sang dokter keluar tergesa-gesa dan berkata kepada orang tua pasien, “Berbahagialah Pak, al?amdulillah, operasi berjalan lancar, anak anda akan baik-baik saja. Maaf, saya harus segera pergi, perawat akan menjelaskan kondisi anak anda lebih rinci.”

Orang tua pasien tersebut tampak berusaha mengajukan pertanyaan lain, tetapi sang dokter segera beranjak pergi. Selang beberapa menit, sang anak keluar dari ruang operasi disertai seorang perawat. Seketika orang tua anak itu berkata, “Ada apa dengan dokter egois itu, tidak sedikit pun memberi kesempatan kepada saya untuk bertanya tentang kondisi anak saya?”

Tak dinyana perawat tersebut menangis terisak-isak dan berkata, “Kemarin putra beliau meninggal dunia akibat kecelakaan. Ketika kami hubungi, dia sedang bersiap-siap untuk mengebumikan putranya itu. Apa boleh buat, kami tidak punya dokter bedah yang lain; oleh karena itu begitu selesai operasi dia bergegas pulang untuk melanjutkan pemakaman putranya. Dia telah berbesar hati meninggalkan sejenak segala kesedihannya atas anaknya yang meninggal demi menyelamatkan hidup anak anda.”

YA ALLAH RAHMATILAH HATI YANG MESKI TERLUKA, NAMUN TIDAK BERBICARA

 —

[Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi dari http://www.qiblati.com, disalin dari http://gizanherbal.wordpress.com/2013/03/26/dokter-yang-penuh-rahasia/]



Gadis Kecil Itu Telah Tiada, Seolah Ia Ada Untuk Menasihati Kami


Tak terbayangkan jika gadis cantik yg kita besarkan harus pergi meninggalkan kita selamanya. Tak terbayangkan jika jagoan kecil yg senantiasa menghidupkan rumah kita kembali ke Sang Pencipta.

Suka tidak suka, senang tidak senang, semua yg hidup pasti akan mati. Entah kita atau mereka yg mendahului. Semua adalah milik-Nya & akan kembali pada-Nya.

-Ummu Zahra-


****

Renata... Gadis Kecil Itu Telah Tiada [*]

Depsos al-Sofwa- “Mama jangan menangis lagi, Renata khan milik Allah.” Kata-kata ini seketika meluncur begitu saja dari bibir Renata seakan ingin menghapus kesedihan sang Mama.

“Renata, ini obatnya diminum, ada berapa?” tukas sang Papa. “Ada tiga, ” jawab Renata pendek. “Bismillah… Ya Allah, aku adalah milik-Mu dan aku akan kembali kepada-Mu. Sembuhkan aku dengan obat ini, berilah orang tuaku kesabaran dan rizki, “ lanjutnya seraya meminum obatnya.

Tak dinyana, kalimat-kalimat itu adalah ucapan terakhir Renata karena tak berapa lama kemudian ia pun tak sadarkan diri dan melewati hari-hari terakhirnya tanpa kesadaran di ruang PICU R.S. Fatmawati.

Meningitis -radang selaput otak- telah menghampirinya hingga Allah menetapkan maut menjemputnya empat puluh hari kemudian. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un.

Ucapan terakhir itu seakan menjadi gambaran perjalanan hidup Renata, si gadis kecil itu. Belum hilang dari ingatan sang Mama saat putri kecilnya itu selalu mendampingi dan mengalirkan kalimat-kalimat nasihat.
“Mama, kalau beli ayam hati-hati; harus tanya dulu motongnya pakai bismillah tidak?”
“Mama, kenapa enggak pakai jilbab? Khan wajib.”
“Anjing itu bisa najis kalau terkena jilatannya. Harus dicuci pakai tanah dan air. Orang sebelah harus diingatkan kalau anjingnya main-main ke rumah.”

*****

Kini, gadis kecil itu telah pergi, tak ada lagi kalimat-kalimat indah itu. Tak ada lagi celotehan riangnya saat berangkat mengaji. Bahkan tak ada lagi yang membangunkan orang rumah untuk shalat Shubuh. “Ia terbiasa bangun lebih awal saat adzan berkumandang,” tutur sang Papa.
“Renata ingin lihat Mama pakai jilbab…,”tutur Renata suatu hari sebelum ia tak sadarkan diri.
“Seolah-olah selama ini ia ada untuk mengingatkan dan menasihati kami,” kenang sang Mama.

*****

Wahai Mama, bersabarlah. Yakinlah putrimu ini, dengan izin Allah, akan berbuah pahala bagimu untuk meraih surga yang dijanjikan. Tidakkah engkau ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: “Benar-benar ada lima hal yang sangat berat takarannya di akhirat kelak, yaitu ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar dan anak shalih yang meninggal sedang orang tuanya bersabar dan berharap pahala kepada Allah dari musibah itu.” [1]

Wahai Papa, janganlah larut dalam kesedihan. Yakinlah, ini bukan perpisahan abadi bahkan ini adalah awal dari kebersamaan abadi, dengan izin Allah. Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyampaikan: “Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka, ”Masuklah ke surga!” Merekapun menjawab,”(Kami akan masuk) jika bapak dan ibu kami masuk juga ke surga.” \\\"...Maka diserukan kepada anak-anak kecil itu, ”Masuklah kalian dan bapak (orang tua) kalian ke surga!” [2]

*****
“Ya Allah, Ar-Rahman Ar-Rahim, Engkau telah memberi amanah kepada kami seorang putri, yang kami didik agar menjadi putri sholehah yang bertaqwa kepada-Mu dan kini Engkau telah memanggilnya. Ya Allah, dengan amal kami ini jadikanlah putri kami syafa’at bagi kami. Jadikanlah putri kami ini salah satu dari anak-anak kecil yang menanti orang tuanya di pintu surga untuk masuk bersama-sama. Amin.“

-----------------------------------

Renata Aulia Anjani meninggal di usia 7 tahun pada 26 April 2011 akibat meningitis - radang selaput otak. Renata adalah siswi kelas 1 Madrasah Ibitidaiyah As-Sa\'adatuddarain I Pamulang Tangerang Selatan.

Kisah di atas merupakan penuturan kedua orang tuanya kepada Tim Sahabatku Sehat Al-Sofwa, yang telah melakukan dampingan sejak Renata dirawat di RS.Fatmawati. Semoga Allah merahmatinya dan semoga kisah ini menjadi hikmah bagi kita. Amin.

--------

[1]. HR. An-Nasai, Ibnu Hibban dan Al-Hakim; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 2/214 no.2009.
[2]. Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya 28/174 dan dinilai baik oleh Al-Arna\\\'uth. Hadits ini dikuatkan oleh hadits-hadits shahih lain yang semakna oleh Imam Muslim, An-Nasai dan yang lainnya. Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib dan juga Fatawa Al-Azhar 8/104.

[*] Tambahan teks dari saya - Ummu Zahra

Sumber : http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatberita&id=143

Wahai Putraku, Naiklah Bersama Kami...


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi umat manusia dengan kisah-kisah umat terdahulu sebelum mereka. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad dan pengikut setia ajarannya hingga kiamat tiba. Amma ba'du.


Di antara kisah yang menyentuh hati adalah kisah dakwah Nabi Nuh 'alaihis salam. Sebuah kisah yang amat menakjubkan. Kisah perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, akan tetapi kebanyakan mereka justru mencemooh dan menolak ajakannya.


Sebuah kisah yang mencerminkan kesabaran pembela kebenaran. Allah ta'ala berfirman (yang artinya),


“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, agar kamu -wahai Nuh- memperingatkan kaummu sebelum siksaan yang pedih menimpa mereka. Nuh berkata, 'Wahai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian. Hendaklah kalian beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan taat kepadaku. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian hingga waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya ketentuan ajal dari Allah itu apabila telah datang maka tidak bisa lagi ditangguhkan seandainya kalian mengetahui'. Nuh berkata, 'Wahai Rabbku, sungguh aku telah mendakwahi kaumku siang dan malam. Ternyata dakwahku tidak menambah apa-apa selain mereka justru semakin bertambah lari...” (QS. Nuh: 1-6)


Kisah tentang dakwah yang mendapatkan rintangan dan cemoohan.. Dakwah yang mengajak kepada keselamatan, namun disambut dengan tanggapan yang sangat menyakitkan! Allah ta'ala berfirman (yang artinya),


“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) orang biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Hud: 25-27)


Nabi Nuh 'alaihis salam mengajak kaumnya untuk bertauhid, akan tetapi mereka justru menolak ajakannya. Mereka tetap bersikeras mempertahankan budaya syirik yang telah mendarah daging dalam kehidupannya. Allah menceritakan keluhan Nabi Nuh 'alaihis salam (yang artinya),


“Nuh berkata, 'Wahai Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan justru mengikuti orang-orang yang tidak mendatangkan apa-apa dengan harta dan anak-anaknya selain kerugian. Mereka pun melakukan makar yang besar. Mereka berkata: Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan sampai kalian tinggalkan Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr...” (QS. Nuh: 21-23).


Adakah kezaliman dan kedurhakaan yang lebih besar daripada syirik? Adakah ajakan yang lebih sesat daripada ajakan untuk menolak tauhid dan melestarikan syirik? Maha suci Allah...


Sungguh, Nabi Nuh'alaihis salam telah menunaikan tugasnya untuk berdakwah tauhid kepada kaumnya. Sebagaimana yang Allah tugaskan kepada segenap rasul yang diutus-Nya. Allah ta'ala berfirman (yang artinya),


“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah).” (QS. an-Nahl: 36)


Hingga, tibalah saatnya Allah memerintahkan Nabi Nuh 'alaihis salam untuk membuat perahu sebelum datangnya banjir maha dahsyat yang akan menenggelamkan orang-orang yang durhaka. Allah ta'alaberfirman (yang artinya),


“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia pun tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh (950 tahun), sehingga banjir besar pun menelan mereka sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbuat kezaliman. Maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang menaiki bahtera itu, dan Kami jadikan ia sebagai bahan pelajaran bagi semua manusia.” (QS. al-Ankabut: 14)


Proyek bahtera keselamatan ini justru membuat Nabi Nuh 'alaihis salam diejek oleh para pembesar kaumnya. Allah ta'ala berfirman (yang artinya),


“Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu dari Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan-Ku mengenai nasib orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan dia [Nuh] pun membuat bahtera itu, dan setiap kali para pembesar kaumnya melewatinya, mereka pun mencemooh perbuatannya. Nuh pun berkata, 'Jika kalian mengejek kami sekarang maka kelak kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami. Kalian pun kelak akan tahu siapakah yang akan mendapati siksaan yang menghinakan dirinya dan siapakah yang akan tertimpa azab yang kekal'.” (QS. Hud: 37-39)


Dan, ketika banjir besar itu datang, Nabi Nuh 'alaihis salam telah menaikkan para pengikutnya yang setia ke atas bahtera. Memang tidak ada yang beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja. Sebagai seorang ayah, Nabi Nuh 'alaihis salam tentu sangat ingin menyelamatkan putranya --yang bernama Yam, anaknya yang keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah [2/468]-- dari timpaan azab.


Allah ta'ala berfirman (yang artinya),


“Dan bahtera itu pun berlayar membawa mereka (Nuh dan pengikutnya) di tengah gelombang yang datang laksana gunung. Dan Nuh memanggil putranya yang berada di tempat yang jauh terpencil, 'Wahai putraku, naiklah bersama kami. Janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.'.” (QS. Hud: 42)


Lihatlah kasih sayang seorang ayah yang salih ini kepada putranya... Kasih sayang sejati seorang ayah yang menginginkan putranya selamat dari siksaan Allah. Kasih sayang yang menuntut sang ayah untuk mengajak putranya kepada kebenaran. Bukan kasih sayang palsu yang membiarkan sang anak larut dalam kebatilan... Seorang ayah yang menghendaki putranya menjadi hamba yang taat kepada Allah dan mengagungkan perintah-perintah-Nya..


Akan tetapi, sungguh disayangkan ternyata ajakan yang tulus ini disambut dengan pembangkangan. Allah ta'ala menceritakan (yang artinya),


“Dia [anaknya] berkata, 'Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari terpaan air.' Nuh berkata, 'Tidak ada yang selamat pada hari ini dari hukuman Allah kecuali orang yang dirahmati.' Gelombang itu pun memisahkan mereka berdua, dan putranya termasuk golongan yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)


Sang anak yang kafir ini mengira bahwa dengan lari ke puncak gunung bisa menyelamatkan dirinya dari ditenggelamkan oleh air bah yang sangat besar itu. Padahal, pada hari itu hanya orang-orang yang taat kepada rasul saja yang selamat, karena mereka telah menempuh jalan menuju rahmat Allah ta'ala. Adapun orang-orang yang dengan sengaja menentang rasul setelah tampak jelas petunjuk bagi mereka, maka kehancuran itulah kesudahan yang akan mereka temukan.


Semoga kisah ini bisa menjadi pendorong bagi kita untuk bersabar dalam mendakwahkan kebenaran, terus berusaha menyebarkan dakwah walaupun harus mendapatkan cemoohan. Hidayah di tangan Allah, adapun kita sekedar menyampaikan saja. Kita pun harus meyakini bahwa taat kepada rasul adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan, meskipun sebagian orang (baca: orang kafir dan munafik) menganggapnya sebagai kebodohan!


Penulis adalah alumni Ma'had al-'Ilmi

Situs Ma'had: http://mahadilmi.wordpress.com/


Dicopas dari note ustadz Ari Wahyudi di http://www.facebook.com/notes/abu-mushlih-ari-wahyudi/wahai-putraku-naiklah-bersama-kami/10150193823486123

Kisah Penumpang Kapal Mesir "Salim Express" yang Tenggelam

Singkirkan kisah tenggelamnya kapal Titanic. Inilah kisah teladan yang sesungguhnya....

-Ummu Zahra-

***

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., M.A.


http://kisahmuslim.com/kisah-penumpang-kapal-mesir-%E2%80%9Csalim-express%E2%80%9D-yang-tenggelam/

Foto : morgue***


Ummu Aiman : Budak Nabi dan Pengasuhnya


Namanya adalah Barakah binti Tsa'labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu'man al Habasyiyah.

Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam mewarisi wanita ini dari ayahnya, dan Ummu Aiman senantiasa mengasuh Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam hingga dewasa. Tatkala Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam menikah dengan Khadijah binti Khuwailid radhiallahu 'anha, beliau memerdekakan Ummu Aiman yang kemudian ia dinikahi oleh Ubaidulllah bin Haris al Khazraji. Darinyalah ia melahirkan Aiman radhiallahu 'anhu yang pada gilirannya Aiman ikut berhijrah dan berjihad bahkan syahid tatkala perang Hunain.

Nabi Sholallahu 'Alaihi Wassalam memuliakan Ummu Aiman. Beliau sering mengunjunginya dan memanggilnya dengan kata, "Wahai ibu...". Beliau bersabda (artinya) :

"Beliau (Ummu Aiman) adalah termasuk ahli baitku." Beliau juga bersabda, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku." [HR. Al Hakim (IV/63) dan al Asqalani dalam al Ishabah (VIII/213) serta Ibnu Sa'ad dalam ath Thabaqatul Kubra (VIII/223)].

"Barangsiapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga, maka hendaklah ia menikahi Ummu Aiman." [HR. Ibnu Sa'ad (VIII/224) dari jalan Abdullah bin Musa dari Fadhl bin Mazruq, rijalnya tsiqah akan tetapi munqathi'. Lihat al Ishabah (VIII/213)].

Maka akhirnya Zaid bin Haritsah menikahinya pada malam ketika ia diutus oleh Nabi Sholallahu 'Alaihi Wassalam. Dengannyalah akhirnya Ummu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid, buah hati Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam.

Ketika Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam mengizinkan kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, maka Ummu Aiman radhiallahu 'anha termasuk wanita yang berhijrah angkatan pertama. Ummu Aiman berhijrah di jalan Allah dengan berjalan dan tanpa membawa bekal. Pada saat hari sangat panas, sementara ia sedang melakukan puasa, ia sangat kehausan, tiba-tiba ada ember di atasnya yang menjulur dari langit dengan tali berwarna putih. Lalu Ummu Aiman meminum air yang ada di dalamnya hingga kenyang. Ummu Aiman berkata, "Saya tidak pernah lagi merasakan haus sesudah itu. Sungguh saya biasa menghadapi rasa haus dengan puasa di siang hari, namun kemudian aku tidak merasa haus lagi setelah minum air tersebut, meskipun aku puasa pada siang hari yang panas aku tetap tidak merasakan haus." [HR. Ibnu Sa'ad dalam ath Thabaqat (VIII/224) dan oleh al Hafidh al asqalani dalam al Ishabah (VIII/213)].

Ummu Aiman adalah seorang wanita yang kidal (?) suaranya. Suatu ketika beliau ingin menyeru kaum muslimin pada perang Hunain dan berkata, "Tsabbatallahu aqdamakum" semoga Allah mengistirahatkan kalian (padahal mungkin yang dimaksud adalah tsabbatallahu aqdamakum, semoga Allah mengokohkan kaki kalian, pen.). Maka Nabi bersabda:

"Diamlah wahai Ummu Aiman karena anda adalah seorang yang kidal lisannya." [sama dengan di atas pada buku hal. 224-225]

Suatu ketika Ummu Aiman masuk ke dalam rumah Nabi Sholallahu 'Alaihi Wassalam dan mengucapkan salam, "Salamun laa alaikum" (keselamatan bukan atas kalian) padahal yang dimaksud adalah "Assalamu'alaikum", akan tetapi beliau memberikan rukhsakh kepadanya untuk mengucapkan salam salamun la alikum [sama dengan di atas].

Di samping Ummu Aiman memiliki sifat-sfat terpuji ditambah lagi pada usianya sudah tua, ia radhiallahu 'anha tidak mau tinggal diam. Beliau ingin menyertai para pahlawan Islam dalam menghancurkan musuh-musuh Allah untuk meninggikan Kalimat-Nya. Sehingga ia ikut dalam perang Uhud dan ikut andil dengan kemampuan yang ia miliki. Ia memberikan minum bagi pasukan muslim dan mengobati yang terluka dan ia juga menyertai perang Khaibar bersama Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam [Ath Thabaqat (VIII/225)].

Ketika Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam wafat, Abu Bakar radhiallahu 'anhu berkata kepada Umar radhiallahu 'anhu, "Pergilah bersama kami menemui Ummu Aiman. Kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasululullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam telah mengunjunginya." Tatkala mereka sampai di rumah Ummu Aiman ternyata ia sedang menangis, keduanya berkata, "Apa yang membuat anda menangis? Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya?"

Ummu Aiman menjawab, "Bukanlah saya menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, hanya saja saya menangis karena telah terputusnya wahyu dari langit." Hal itu membuat Abu Bakar dan Umar menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman [HR Imam Muslim dalam Fadha'ilush Shahabah, no. 2454 dan Ibnu Majah dalam al Jazaiz no. 1635, Abu Nu'aim dalam al hilyah (II/8), ath Thabaqat (VIII/22), semuanya dari jalan Sulaiman bin Mughirah bin Tsabit dari Anas berkata...al hadist.

Pada saat terbunuhnya Umar bin Kaththab radhiallahu 'anhu, Ummu Aiman menangis sambil berkata, "Pada hari ini Islam menjadi lemah." [Ath Thabaqat (VIII/226), sanadnya shahih dan oleh al Hafidh dalam al Ishabah (VIII/214)]

Ummu Aiman wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu, tepatnya dua puluh hari setelah terbunuhnya Umar.

Semoga Allah merahmati Ummu Aiman pengasuh pemimpin anak Adam radhiallahu 'anha. Beliau adalah seorang wanita yang rajin puasa dan tahan lapar. Berhijrah dengan berjalan diberi minum yang tidak diketahui asalnya-usulnya, minuman dari langit sebagai penyembuh bagi beliau.

Diketik ulang dari "Mereka Adalah Para Shahabiyah : Kisah-kisah Wanita Menakjubkan yang Belum Tertandingi Hingga Hari Ini", hal. 209-212, penerbit At Tibyan, 2010/1431 H.

Photo : morgue****



Bukan Permata Biasa


Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya. Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”

https://enkripsi.wordpress.com/2011/04/06/bukan-permata-biasa/

Photo : morgue****

Penyakit Hati

Oleh : dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP (dokter spesialis bedah dan jantung), dalam bukunya "Kesaksian Seorang Dokter : Mensucikan Hati Melalui Kisah-kisah Nyata"

***

Penyakit ini disebabkan oleh keragu-raguan atau hawa nafsu bukan penyakit fisik, karena itu tidak ada seorang dokter ahli bedah jantung pun yang bisa menghilangkan penyakit ini dengan peralatan bedahnya.

Jika seseorang terkena penyakit ini, ia akan kehilangan arah, merugi lalu menyesal.

Penyakit hati adalah pintu segala kerusakan, jalan menuju berbagai macam dosa, penyebab utama perpecahan umat dan keretakan rumah tangga.

***

Saya mempunyai seorang sahabat yang berusia 32 tahun, ia terkena penyakit kanker otak, meskipun telah berobat ke luar negeri, akan tetapi Allah Ta'ala belum menakdirkan kesembuhan untuknya.

Kemudian ia dimasukkan ke rumah sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh, pada bulan-bulan terakhir dari kehidupannya ia tidak sadarkan diri, seluruh wajahnya membengkak, khususnya daerah hidung dan kedua matanya, sehingga orang-orang yang menjenguknya merasa jijik dan tidak tega untuk memandangnya.

Untuk mengantisipasi jika ia meninggal saat malam hari, maka saya minta kepada rekan-rekan di rumah sakit untuk menghubungi keluarganya, dan kebetulan yang mengangkat telepon adalah ibunya, maka sang ibu merasa kaget. Saya juga minta kepada pihak rumah sakit untuk menghubungi saya, jika sahabat saya itu sedang sakaratul maut.

Tepatnya jam 6 pagi pihak rumah sakit menghubungi saya untuk menyampaikan kabar bahwa sahabat saya sedang menghadapi sakaratul maut, maka saya segera pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, saya bertanya kepada salah seorang perawat mengenai detak jantungnya, "30/detik dan tekanan maksimal 35," jawab perawat itu.

Saya segera memasuki ruang rawatnya dengan penuh takjub, bagaimana tidak, wajah yang menakutkan, hidung yang membesar dan mata yang menonjol keluar itu telah kembali normal. Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

Saya mendekatinya dan memutar tempat tidurnya ke arah kiblat, kemudian saya dia, "Muhammad!" Ia menyahut, "ya." Ia berkata, "Khalid?" Saya menjawab, "Ya, bagaimana keadaanmu?" Ia menyahut, "Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik." Saya katakan kepadanya, "Ucapkanlah 'Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah'." Ia mengucapkannya lalu pergi menghadap Tuhannya -semoga Allah merahmatinya.

Saya memohon kepada Allah Ta'ala semoga mempertemukan saya, sahabat saya dan anda semua di dalam naungan surga Firdaus.

Saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, amal perbuatan apa yang telah ia lakukan, sehingga ia berhak untuk mendapatkan anugrah husnul khatimah ini?

Karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah menyampaikan,

"Barangsiapa ucapan terakhirnya kalimat 'Laa ilaaha ilallah', maka ia akan masuk surga." [HR. Ahmad 5/233, Abu Dawud 3116, Jami' Ash-Shahih Al Albani 6497]

Saya menjadi heran, sebab sepengetahuan saya ia bukanlah tipe orang yang banyak beribadah, walaupun ia selalu menjaga shalat 5 waktu dan selalu berhati-hati menjauhi larangan-larangan Allah Ta'ala.

Saya yakin, pasti ia mempunyai satu amal ibadah yang istimewa hingga ia mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan husnul khatimah dan mengucapkan dua kalimat syahadat di penghujung hayatnya.

Saya bertanya kepada ayahnya, sang ayah menjelaskan, "Putraku itu sangatlah aneh, aku belum pernah menemui orang yang hatinya lebih mulia darinya, ia tidak pernah tertarik dengan harta milik orang lain, ia tidak mengenal sifat dengki maupun iri, ia selalu membawa cinta kasih sayang kepada siapapun, mungkin semua ini cukup untuk mengantarkannya ke derajat husnul khatimah."

***

Dari Anas bin Malik Radhiallahu 'Anhu ia berkata, "Saat itu kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, lalu beliau bersabda, 'Akan datang seorang penghuni surga dari arah ini kepada kalian.' Maka datanglah seorang sahabat Anshar dengan jenggot yang basah karena berwudhu, sambil membawa sandalnya dengan tangan kiri, ia mengucapkan salam.

Keesokan harinya Rasululllah Shalallahu 'Alaihi Wassalam menyampaikan hal yang sama dan ternyata orang yang datang sama pula. Pada hari ketiga beliau menyampaikan berita yang sama dan muncullah orang yang sama.

Ketika Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihin Wassalam beranjak pergi, Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu 'Anhu mendekati orang Anshar tersebut sambil berkata, 'Aku bertengkar dengan ayahku, dan bersumpah tidak akan memasuki rumahnya selama 3 hari, jika engkau tidak keberatan bolehkah aku tinggal di rumahmu selama 3 hari?' Orang itu menjawab, 'Silahkan saja tidak apa-apa.'

Anas berkata, 'Kemudian Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu 'Anhu tinggal di rumah orang tersebut selama 3 hari, akan tetapi ia tidak pernah menemuinya bangun malam untuk menunaikan shalat malam, kecuali bahwa jika ia terbangun atau membalik badannya di tempat tidur ia menyebut Asma Allah dan bertakbir, begitulah seterusnya hingga datang waktu shalat shubuh. Akan tetapi orang itu tidak pernah berucap kecuali perkataan yang baik.

Abdullah bin Amr berkata, 'Setelah berlalu 3 hari aku merasa bahwa amal ibadahnya biasa-biasa saja, lalu aku berbicara kepadanya, 'Wahai Abdullah, sesungguhnya aku tidak pernah bertengkar dengan ayahku, akan tetapi aku telah mendengar Rasululllah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, 'Akan datang seorang penghuni surga kepada kalian.' Sebanyak 3 kali, dan ternyata 3 kali pula engkau muncul setelah beliau menyampaikan sabdanya tersebut, maka aku ingin tinggal bersamamu untuk mengetahui apa yang telah engkau lakukan, dan ternyata aku tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya amal perbuatan apa yang telah mengantarkanmu ke derajat yang agung itu?' Orang itu menjawab, 'Tidak ada yang aku rahasiakan, -sebagaimana yang engkau lihat- itulah yang aku lakukan.'

Abdullah bin Amr segera beranjak untuk pergi. Tiba-tiba orang tersebut memanggilnya, seraya berkata, 'Yang aku lakukan adalah apa yang telah engkau lihat, hanya saja aku tidak pernah iri terhadap nikmat yang telah diterima oleh seorang muslim pun.'

Abdullah berkata, 'Itulah yang telah mengangkat derajatmu, dan itulah yang berat untuk dilakukan'." [HR Ahmad 3/166, Abdul Razaq 11/287-288, Al-Arnauth 13/114]

Iri dan dengki adalah dua penyakit yang sangat berbahaya, ia memusnahkan kebaikan, menghancurkan amal shalih, karena kedua penyakit tersebut menimbulkan sebuah dosa yang sangat buruk, menjerumuskan orang ke dalam ghibah, mengadu domba, berbohong dan menipu.

Iri dan dengki akan membakar kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar, lalu akan menjerumuskan seseorang ke dalam kedzaliman, dan semua itu adalah kesalahan besar.

Seseorang yang di dalam hatinya tumbuh penyakit iri dan dengki, tidak akan merasakan ketenangan dan kenyamanan, pertentangan selalu berkecamuk di dalam hatinya, bagaimana ia bisa mendapatkan nikmat yang diterima oleh orang lain? Dari mana ia mendapatkan semua harta kekayaan itu? Dari mana ia mendapatkan semua harta kekayaan itu? Dan masih banyak pertanyaan lain, sehingga ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengintai kegiatan orang lain, maka hilanglah kesempatannya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

Saudaraku yang budiman,

Jika kita telah mengenal dan memahami suatu penyakit, pasti kita akan dapatkan obat yang cocok untuknya, dan obat yang paling manjur untuk menghadapi penyakit ini adalah selalu menjaga shalat berjamaah dengan penuh khusyu' dan sikap tunduk kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman (artinya) :

"Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuata-perbuatan) keji dan munkar." [QS. Al-Ankabut : 45].

Kekejian apakah yang lebih buruk daripada iri dan dengki?

Allah Ta'ala berfirman (artinya) :

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." [QS. Al-Ra'd : 28]

Hati seseorang yang tertimpa penyakit iri dan dengki akan kehilangan ketenangan, dan satu-satunya obat adalah taat kepada Allah Ta'ala dan selalu berdzikir kepada-Nya. Shalat adalah dzikir yang paling utama, selanjutnya membaca Al Qur'an, membaca tasbih, tahlil, membiasakan dzikir pagi dan sore hari, memperbanyak istighfar dan taubat, berdoa dan mujahadah.

Perlu diketahui bahwa proses pengobatan ini kadang membutuhkan waktu yang panjang, maka janganlah engkau ragu dan putus asa, yang penting mulailah proses pengobatan yang benar ini, lalu gantungkanlah semua harapan dan tujuan hanya kepada Allah Ta'ala dengan penuh keikhlasan dan kekhusyu'an agar Dia menyembuhkanmu dari penyakit ini, berdoalah kepada-Nya dengan penuh khusyu' dan tunduk, perbanyaklah membaca firman Allah Ta'ala (artinya),

"Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." [QS. Al Hasyr " 10]

Cara pengobatan ini telah dicoba oleh banyak orang yang tertimpa penyakit ini dan hasilnya sebagian dari mereka merasakan adanya perubahan yang nyata, sedangkan yang lainnya alhamdulillah terbebas sama sekali dari penyakit ini.

Saudaraku yang budiman...

Jika anda ingin menjadi salah seorang penghuni surga, maka bersihkanlah dirimu dari penyakit yang sangat berbahaya ini, karena penyakit ini akan menjerumuskan anda ke dalam jurang kehancuran. Oleh karena itu perbanyaklah berdoa kepada Allah Ta'ala agar menyembuhkanmu dari penyakit ini, terlebih saat kamu melakukan shalat malam, dengan izin-Nya insyaAllah anda akan sembuh.

Saudaraku...

Jika badan yang bebas dari segala macam penyakit menjadikan hidup seseorang nyaman tanpa beban, maka hati yang terbebas dari segala macam penyakit akan menjadikan hidupnya penuh dengan kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kehidupan yang penuh kebaikan tidak akan dicapai kecuali dengan meninggalkan penyakit ini.

***

Photo : dreamst***



Muflis (Orang yang Pailit)


Oleh : dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP (dokter spesialis bedah dan jantung), dalam bukunya "Kesaksian Seorang Dokter : Mensucikan Hati Melalui Kisah-kisah Nyata"

***

Saat menunggu penerimaan gelar Doktor, saya mengambil cuti dua minggu. Pada suatu malam, saya membaca dan mengulang-ngulang kembali materi tulisan disertasi saya. Saat itu waktu menunjukkan waktu pukul dua malam. Tiba-tiba timbul keinginan kuat dalam diri saya untuk datang ke rumah sakit. Maka saya membawa buku-buku dan pergi ke rumah sakit.

Setibanya di bagian Urologi (saluran kencing), seorang perawat berkebangsaan Inggris mengatakan kepadaku, "Dokter, ada seorang pasien yang sedang menghadapi sakaratul maut, saya harap anda mau menyalatinya -maksudnya ialah mentalqininya-."

Saya menanyakan penyakit pasien tersebut. Ia menjawab, "Ia terserang kanker Urinary Bladder (kandung kemih). Kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya hingga mencapai otaknya. Pasien tersebut telah hilang kesadarannya sejak empat minggu yang lalu.

Saya menanyakan kondisinya saat ini. Ia menerangkan, "Detak jantungnya lemah sekali. Antara 20-30 per menit. Tekanan maksimal sekitar 40."

Saya bertanya, "Siapa namanya?" Perawar itu menjawab, "Muhammad." Saya bertanya lagi, "Berapa umurnya?" Ia menjawab, "40 tahun".

Saya memasuki ruang perawatan pasien tersebut. Tahukah Anda apa yang saya lihat? Saya melihat wajah putih kemerah-merahan (segar), sehingga saya ragu betulkah orang ini yang dimaksud?

Saya bertanya kepada perawat tersebu, "inikah orangnya?" Ia menjawab, "Ya."

Sungguh, saya sangat heran dengan kondisi pasien yang segar bugar jika merujuk dari keterangan perawat tadi. Lalu saya mendekatinya. Dengan tanpa sadar, saya menghadapkannya ke arah kiblat.

Saya memanggil orang tersebut, "Muhammad?" Ia menyahut, "Ya." Saya katakan, "Ucapkan 'Asyhadu alla ilaha ilallah wa anna Muhammad rasulullah'." Ia mengucapkannya. Serta merta ruhnya keluar menghadap Tuhannya. Semoga Allah merahmatinya dan mempertemukan kita, orang tua kita dan keluarga kita di surga firdaus.

Perawat yang menemaniku merasa keheranan. Bagaimana mungkin pasien itu menyahut panggilanku dalam keadaan sakaratul maut? Apalagi ia telah kehilangan kesadarannya sejak empat minggu yang lalu?

Perawat itu memintaku untuk menghubungi keluarganya dan memberitahukan kematian saudaranya. Maka saya menghubungi salah seorang saudaranya agar segera datang ke rumah sakit.

Saya ceritakan tentang kejadian yang baru saya alami kepada saudaranya. Kemudian saya tanyakan tentang sisi-sisi kehidupan orang tersebut saat ia masih hidup. Saudaranya tersebut menjelaskan, "Almarhum* itu mempunyai sifat-sifat yang jarang dimiliki oleh orang lain. Ia tidak pernah berbuat ghibah (membicarakan atau mengungkit-ungkit kejelekan orang lain). Ia tidak pernah mengizinkan orang lain berbuat ghibah di dekatnya. Dan jika ia tidak bisa menghalangi orang yang berbuat ghibah di dekatnya, ia segera pergi menjauh."

***

Saudaraku.... tahukah kamu rahasianya? Sesungguhnya ghibah itulah yang membinasakan kebaikan. Orang yang berbuat ghibah akan hangus semua amal kebaikannya. Bahkan ghibah itu dapat mengalihkan kesalahan dan dosa orang-orang yang dijadikan obyek ghibah kepada orang yang melakukan ghibah. Kemudian dosa-dosa itu ia tanggung.

Orang yang melakukan ghibah bagaikan orang yang bekerja, akan tetapi hasil pekerjaannya ia berikan kepada orang lain. Ia bagaikan orang yang mengolah kebun orang lain lalu meninggalkannya begitu saja sehingga semua hasil jerih payahnya diambil oleh pemilik kebun tersebut. Maka orang yang dighibah akan menuai semua amal kebaikannya.

Saudaraku,

Sesungguhnya ghibah adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh Anak Adam. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya akan tetapi mereka tidak menyadarinya. Jika anda terjerumus ke dalam perbuatan ghibah ini, maka anda seperti orang yang mengumpulkan air dalam panci bocor. Bisakah kiranya panci itu menampung air yang anda taruh di dalamnya? Sekali-kali tidak! Air itu tentunya akan mengalir keluar dan panci akan kembali dalam keadaan kosong. Beginilah gambaran orang yang melakukan ghibah. Semua kebaikan dan jerih payahnya akan mengalir kepada orang lain.

Saudaraku... tahukah anda bagaimana cara mengontrol hawa nafsu? Atau lebih gampangnya, tahukah anda bagaimana cara menyumbat panci bocor tersebut sehingga kebaikanmu tidak mengalir ke luar?

Jalan keluar satu-satunya adalah dengan memperkuat keimananmu kepada Allah Ta'ala, dan hal itu tidak mungkin tercapai kecuali jika anda menjaga shalat dengan baik, jika anda termasuk orang-orang yang hatinya terpaut pada masjid, jika anda termasuk orang yang jika ketinggalan takbiratul ihram -shalat jamaah- merasa bersedih dan hati anda serasa terbakar dan sangat menyesali kejadian tersebut.

Janganlah anda lupa, bahwa obat yang akan segera menyembuhkan penyakit ghibah adalah shalat malam. Banyak orang yang telah mencobanya dan ternyata mereka merasakan bahwa shalat malam tersebut dapat menjadi benteng yang kuat untuk menjaga lidah dari penyakit ghibab dan namimah (adu domba). Bukankah shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar? Allah Ta'ala berfirman :

... إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ

"Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar [QS. Al Ankabut : 45]

Saudaraku... saya ingin bertanya, "Jika ada dua orang yang sama-sama memiliki mobil, mobil salah seorang dari keduanya seharga setengah juta Riyal, sedangkan mobil orang lain seharga seribu Riyal, bukankah orang yang memiliki mewah tersebut akan berusaha mati-matian untuk menjaga keutuhan mobilnya? Bahkan ketika membersihkannya, ia takut jika kain lapnya menyebabkan goresan pada bodi mobilnya. Beginilah orang yang memiliki banyak amal shalih, orang yang selalu memelihara shalatnya, orang yang hatinya terpaut pada masjid, orang yang selalu menunaikan shalat malam. Ia sangat khawatir jika kebaikannya mengalir untuk orang lain. Ia tidak ingin menggores keindahan dan kemilau imannya dengan perbuatan ghibah atau mengucapkan perkataan yang keji.

Sedangkan orang kedua yang memiliki mobil murah tersebut tidak peduli apakah mobilnya tergores atau tertabrak. Bahkan bisa jadi ia menaruhnya di mana saja tanpa ambil pusing. Inilah gambaran orang yang melakukan kemaksiatan, melalaikan shalatnya, tidak pernah mencicipi shalat malam. Iman mereka luka -cacat- tidak lagi sempurna. Jika ia tertimpa luka yang lainnya, ia tidak akan merasakan sama sekali.

Saudaraku.... bukankah kamu menginginkan surga? Jawabannya hanya satu, pasti semua menginginkannya. Saya sampaikan bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wassalam telah menjamin anda masuk surga, dengan syarat anda menjaga lidah dan kemaluan anda. Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wassalam bersabda,

"Barangsiapa yang mendapat penjagaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari kejahatan lidah dan kemaluannya, ia akan masuk surga." [HR Tirmidzi 4/606, 2409, disahihkan oleh Albani 5140]

Dari 'Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata, "Saya berkata kepada Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam 'Cukuplah Shafiyah yang begini dan begitu untukmu.' Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, 'Sungguh engkau telah mengucapkan suatu perkataan, jika dicampurkan ke dalam air laut pasti ia menjadikannya keruh.' Kemudian aku -Aisyah- menceritakan tingkah laku seseorang -tentang kekurangannya-, maka beliau bersabda, 'Aku sama sekali tidak senang menceritakan tingkah laku orang lain walaupun aku diberi seberapapun -dari harta dunia-.'" [ HR Abu Daud 5/123, 4875, Tirmidzi 4/2502, disahihkan oleh Albani 5140].

Hadist ini merupakan peringatan keras atas perbuatan ghibah. Allah Ta'ala juga berfirman

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ۬
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." [QS. Qaaf : 18]

Imam An-Nawawi rahimaullah berkata, "Ketahuilah, hendaknya setiap orang yang telah mencapai umur baligh menjaga lidanya dari semua ucapan, kecuali ucapan yang bermanfaat. Dan jika pekataan maupun diamnya sama kadarnya, maka sebaiknya ia diam tidak berbicara, karena terkadang ucapan mubah menyeret seseorang untuk berkata salah hingga mencapai derajat haram maupun makruh, dan hal itu sering terjadi. Tentunya keselamatan anda -dengan menjaga lidah- di atas segalanya." [Riyadh Ash-Shalihin 573]

Saudaraku...

Janganlah engkau membinasakan kebaikan yang telah engkau kumpulkan melalui ibadah dan amal shalih dengan berbuat ghibah, sehingga anda bagaikan tukang air yang bodoh yang menampung air dengan panci yang bocor.

Saudaraku....

Maukah kebaikan yang telah kamu lakukan hilang begitu saja? Jangan berbuat bodoh. Jadilah orang cerdik lagi pandai. Ingatlah panasnya neraka sebelum engkau menyulut lidahmu dengan ghibah. Bayangkanlah siksa yang pedih bagi orang-orang yang melakukan ghibah. Jagalah lidahmu karena mengharapkan ridha Allah Ta'ala Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang, Maha Pengampun lagi Maha Pemberi, sehingga dengan izin-Nya engkau akan mendapatkan surga.

Dalam hadist riwayat imam Muslim, rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Tahukah kamu siapa orang yang pailit itu?" Mereka menjawab, "Orang pailit adalah orang yang tidak mempunyai uang sepeser pun dan tidak mempunyai harta benda." Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, "Sesungguhnya orang pailit di antara umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalatnya, puasanya, zakatnya, akan tetapi ia telah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, memukul si E. Maka si A akan diberi sebagian dari kebaikannya, si B akan diberi sebagian dari kebaikannya, dan begitu seterusnya. Jika kebaikannya tekah habis padahal semua kesalahannya belum terbayar, maka kesalahan orang-orang yang ia zalimi akan dibebankan kepadanya, yang pada akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka." {HR. Muslim 4/1585, 2581].

Sumber : "Kesaksian Seorang Dokter - Menducikan Hati melalui Kisah-kisah Nyata" (terjemahan), dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, SpJP, Darus Sunnah, 2010.

Photo by inim*****



Hafshah bintu Umar bin Khaththab

Hafshah binti Umar bin Khaththab adalah putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Urnar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi Hafshah.

Jika kita menyebut narna Hafshah, ingatan kita akan tertuju pada jasa-jasanya yang besar terhadap kaum muslimin saat itu. Dialah istri Nabi yang pertama kali menyimpan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah kitab yang sangat agung.


Nasab dan Masa Petumbuhannya

Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un. Hafshah dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah . memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Pada tahun itu juga dilahirkan Fathimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah dari empat putri, dan kelahirannya disambut gembira oleh beliau. Beberapa hari setelah Fathimah lahir, lahirlah Hafshah binti Umar bin Khaththab. Mendengar bahwa yang lahir adalah bayi wanita, Umar sangat berang dan resah, sebagaimana kebiasaan bapak-bapak Arab Quraisy ketika mendengar berita kelahiran anak perempuannya. Waktu itu mereka menganggap bahwa kelahiran anak perempuan telah membawa aib bagi keluarga. Padahal jika saja ketika itu Umar tahu bahwa kelahiran anak perempuannya akan membawa keberuntungan, tentu Umar akan menjadi orang yang paling bahagia, karena anak yang dinamai Hafshah itu kelak menjadi istri Rasulullah. Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebe1um Nabi diutus menjadi Rasul.”

Sayyidah Hafshah radhiallahu ‘anha dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Umar bin Khaththab. Dalam soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalarn membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.


Memeluk Islam

Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Umar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam. Ketika suatu waktu Umar mengetahui keislaman saudara perempuannya, Fathimah dan suaminya Said bin Zaid, dia sangat marah dan berniat menyiksa mereka. Sesampainya di rumah saudara perempuannya, Umar mendengar bacaan Al-Qur’an yang mengalun dan dalam rumah, dan memuncaklah amarahnya ketika dia memasuki rumah tersebut. Tanpa ampun dia menampar mereka hingga darah mengucur dari kening keduanya. Akan tetapi, hal yang tidak terduga terjadi, hati Umar tersentuh ketika meihat darah mengucur dari dahi adiknya, kemudian diambilnyalah Al Qur’an yang ada pada mereka. Ketika selintas dia membaca awal surat Thaha, terjadilah keajaiban. Hati Umar mulai diterangi cahaya kebenaran dan keimanan. Allah telah mengabulkan doa Nabi yang mengharapkan agar Allah membuka hati salah seorang dari dua Umar kepada Islam. Yang dimaksud Rasulullah dengan dua Umar adalah Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahl dan Umar bin Khaththab.

Setelah kejadian itu, dari rumah adiknya dia segera menuju Rasulullah dan menyatakan keislaman di hadapan beliau, Umar bin Khaththab bagaikan bintang yang mulai menerangi dunia Islam, serta mulai mengibarkan bendera jihad dan dakwah hingga beberapa tahun setelah Rasulullah wafat. Setelah menyatakan keislaman, Umar bin Khaththab segera menemui sanak keluarganya untuk mengajak mereka memeluk Islam. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk di dalamnya Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.


Menikah dan Hijrah ke Madinah

Keislaman Umar membawa keberuntungan yang sangat besar bagi kaum muslimin dalam menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Kabar keislaman Umar ini memotivasi paramuhajirin yang berada di Habasyah untuk kembali ke tanah asal mereka setelah sekian lama ditinggalkan. Di antara mereka yang kembali itu terdapat seorang pemuda bernama Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Pemuda itu sangat mencintai Rasulullah sebagaimana dia pun mencintai keluarga dan kampung halamannya. Dia hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan diri dan agamanya. Setibanya di Mekah, dia segera mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana dia melihat Hafshah. Dia meminta Umar untuk menikahkan dirinya dengan Hafshah, dan Umar pun merestuinya. Pernikahan antara mujahid dan mukminah mulia pun berlangsung. Rumah tangga mereka sangat berbahagia karena dilandasi keirnanan dan ketakwaan.

Ketika Allah menerangi penduduk Yatsrib sehingga memeluk Islam, Rasulullah menemukan sandaran baru yang dapat membantu kaum muslimin. Karena itulah beliau mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Yatsrib untuk menjaga akidah mereka sekaligus menjaga mereka dan penyiksaan dan kezaliman kaum Quraisy. Dalam hijrah ini, Hafshah dan suaminya ikut serta ke Yatsrib.


Cobaan dan Ganjaran

Setelah kaum muslimin berada di Madinah dan Rasulullah berhasil menyatukan mereka dalam satu barisan yang kuat, tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi orang musyrik yang telah memusuhi dan mengambil hak mereka. Selain itu, perintah Allah untuk berperang menghadapi orang musyrik sudah tiba.

Peperangan pertama antara umat Islam dan kaum musyrik Quraisy adalah Perang Badar. Dalam peperangan ini, Allah telah menunjukkan kemenangan bagi hamba- hamba-Nya yang ikhlas sekalipun jumlah mereka masih sedikit. Khunais termasuk salah seorang anggota pasukan muslimin, dan dia mengalami luka yang cukup parah sekembalinya dari peperangan tersebut. Hafshah senantiasa berada di sisinya dan mengobati luka yang dideritanya, namun Allah berkehendak memanggil Khunais sebagai syahid dalam peperangan pertama melawan kebatilan dan kezaliman, sehingga Hafshah menjadi janda. Ketika itu usia Hafshah baru delapan belas tahun, namun Hafshah telah memiliki kesabaran atas cobaan yang menimpanya.

Umar sangat sedih karena anaknya telah menjadi janda pada usia yang sangat muda, sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang muslim yang saleh agar hatinya kembali tenang. Untuk itu dia pergi ke rumah Abu Bakar dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, Abu Bakar diam, tidak menjawab sedikit pun. Kemudian Umar menemui Utsman bin Affan dan meminta kesediaannya untuk menikahi putrinya. Akan tetapi, pada saat itu Utsman masih berada dalam kesedihan karena istrinya, Ruqayah binti Muhammad, baru meninggal. Utsman pun menolak permintaan Umar. Menghadapi sikap dua sahabatnya, Umar sangat kecewa, dan dia bertambah sedih karena memikirkan nasib putrinya. Kemudian dia menemui Rasulullah dengan maksud mengadukan sikap kedua sahabatnya. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah bersabda, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Abu Bakar. Utsman pun akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.” Semula Umar tidak memahami maksud ucapan Rasulullah, tetapi karena kecerdasan akalnya, dia kemudian memahami bahwa Rasulullah yang akan meminang putrinya.

Umar merasa sangat terhormat mendengar niat Rasulullah untuk menikahi putrinya, dan kegembiraan tampak pada wajahnya. Umar langsung menernui Abu Bakar untuk mengutarakan maksud Rasulullah. Abu Bakar berkata, “Aku tidak bermaksud menolakmu dengan ucapanku tadi, karena aku tahu bahwa Rasulullah telah menyebut-nyebut nama Hafshah, namun aku tidak mungkin membuka rahasia beliau kepadamu. Seandainya Rasulullah membiarkannya, tentu akulah yang akan menikahi Hafshah.” Umar baru memahami mengapa Abu Bakar menolak menikahi putrinya. Sedangkan sikap Utsman hanya karena sedih atas meninggalnya Ruqayah dan dia bermaksud menyunting saudaranya, Ummu Kultsum, sehingga nasabnya dapat terus bersambung dengan Rasulullah. Setelah Utsman menikah dengan Ummu Kultsum, dia dijuluki dzunnuraini(pemilik dua cahaya). Pernikahan Rasulullah dengan Hafshah lebih dianggap sebagai penghargaan beliau terhadap Umar, di samping juga karena Hafshah adalah seorang janda seorang mujahid dan muhajir, Khunais bin Hudzafah as-Sahami.


Berada di Rumah Rasulullah

Di rumah Rasulullah, Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar. Secara manusiawi, Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya, lain halnya Saudah binti Zum’ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah yang terhormat.

Umar memahami bagaimana tingginya kedudukan Aisyah di hati Rasulullah. Dia pun mengetahui bahwa orang yang menyebabkan kemarahan Aisyah sama halnya dengan menyebabkan kemarahan Rasulullah, dan yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah. Karena itu Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mencintainya. Selain itu, Umar meminta agar Hafshah menjaga tindak-tanduknya sehingga di antara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi, memang sangat manusiawi jika di antara mereka masih saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari rasa cemburu. Dengan lapang dada Rasulullah mendamaikan mereka tanpa menimbulkan kesedihan di antara istri – istrinya. Salah satu contoh adalah kejadian ketika Hafshah melihat Mariyah al-Qibtiyah datang menemui Nabi dalam suatu urusan. Mariyah berada jauh dari masjid, dan Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalam rumah Hafshah yang ketika itu sedang pergi ke rumah ayahnya, dia melihat tabir kamar tidurnya tertutup, sementara Rasulullah dan Mariyah berada di dalamnya. Melihat kejadian itu, amarah Hafshah meledak. Hafshah menangis penuh amarah. Rasulullah berusaha membujuk dan meredakan amarah Hafshah, bahkan beliau bersumpah mengharamkan Mariyah baginya kalau Mariyah tidak merninta maaf pada Hafshah, dan Nabi meminta agar Hafshah merahasiakan kejadian tersebut.

Merupakan hal yang wajar jika istri-istri Rasulullah merasa cemburu terhadap Mariyah, karena dialah satu-satunya wanita yang melahirkan putra Rasulullah setelah Siti Khadijah radhiallahu ‘anha. Kejadian itu segera menyebar, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk menutupi rahasia tersebut. Berita itu akhirnya diketahui oleh Rasulullah sehingga beliau sangat marah. Sebagian riwayat mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, Rasulullah menceraikan Hafshah, namun beberapa saat kemudian beliau merujuknya kembali karena melihat ayah Hafshah, Umar, sangat resah. Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah bermaksud menceraikan Hafshah, tetapi Jibril mendatangi beliau dengan maksud memerintahkan beliau untuk mempertahankan Hafshah sebagai istrinya karena dia adalah wanita yang berpendirian teguh. Rasulullah pun mempertahankan Hafshah sebagai istrinya, terlebih karena tersebut Hafshah sangat menyesali perbuatannya dengan membuka rahasia dan memurkakan Rasulullah.

Umar bin Khaththab mengingatkan putrinya agar tidak lagi membangkitkan amarah Rasulullah dan senantiasa menaati serta mencari keridhaan beliau. Umar bin Khaththab meletakkan keridhaan Rasulullah pada tempat terpenting yang harus dilakukan oleh Hafshah. Pada dasarnya, Rasulullah menikahi Hafshah karena memandang keberadaan Umar dan merasa kasihan terhadap Hafshah yang ditinggalkan suaminya. Allah menurunkan ayat berikut ini sebagai antisipasi atas isu-isu yang tersebar.

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu,- kamu mencari kesenangan hati istri -istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dan sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dan istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberiitakan Allah kepadanya) dan rnenyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukrnin yang haik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.” (Qs. At-Tahrim:1-5)


Cobaan Besar

Hafshah senantiasa bertanya kepada Rasulullah dalam berbagai masalah, dan hal itu menyebabkan marahnya Umar kepada Hafshah, sedangkan Rasulullah senantiasa memperlakukan Hafshah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau bersabda, “Berwasiatlah engkau kepada kaum wanita dengan baik.” Rasulullah pernah marah besar kepada istri-istrinya ketika mereka meminta tambahan nafkah sehingga secepatnya Umar mendatangi rumah Rasulullah. Umar melihat istri-istri Rasulullah murung dan sedih, sepertinya telah terjadi perselisihan antara mereka dengan Rasulullah. Secara khusus Umar memanggil putrinya, Hafshah, dan mengingatkannya untuk menjauhi perilaku yang dapat membangkitkan amarah beliau dan menyadari bahwa beliau tidak memiliki banyak harta untuk diberikan kepada mereka. Karena marahnya, Rasulullah bersumpah untuk tidak berkumpul dengan istri-istri beliau selama sebulan hingga mereka menyadari kesalahannya, atau menceraikan mereka jika mereka tidak menyadari kesalahan. Kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman,

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab)

Rasulullah menjauhi istri-istrinya selama sebulan di dalam sebuah kamar yang disebutkhazanah, dan seorang budak bernama Rabah duduk di depan pintu kamar.

Setelah kejadian itu tersebarlah kabar yang meresahkan bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istri beliau. Yang paling merasakan keresahan adalah Umar bin Khaththab, sehingga dia segera menemui putrinya yang sedang menangis. Umar berkata, “Sepertinya Rasulullah telah menceraikanmu.” Dengan terisak Hafshah menjawab, “Aku tidak tahu.” Umar berkata, “Beliau telah menceraikanmu sekali dan merujukmu lagi karena aku. Jika beliau menceraikanmu sekali lagi, aku tidak akan berbicara denganmu selama-lamanya.” Hafshah menangis dan menyesali kelalaiannya terhadap suami dan ayahnya. Setelah beberapa hari Rasulullah menyendiri, belum ada seorang pun yang dapat memastikan apakah beliau menceraikan istri-istri beliau atau tidak. Karena tidak sabar, Umar mendatangi khazanah untuk menemui Rasulullah yang sedang menyendiri. Sekarang ini Umar menemui Rasulullah bukan karena anaknya, melainkan karena cintanya kepada beliau dan merasa sangat sedih melihat keadaan beliau, di samping memang ingin memastikan isu yang tersebar. Dia merasa putrinyalah yang menjadi penyebab kesedihan beliau. Umar pun meminta penjelasan dari beliau walaupun di sisi lain dia sangat yakin bahwa beliau tidak akan menceraikan istri – istri beliau. Dan memang benar, Rasulullah tidak akan menceraikan istri-istri beliau sehingga Umar meminta izin untuk mengumumkan kabar gembira itu kepada kaum muslimin. Umar pergi ke masjid dan mengabarkan bahwa Rasulullah tidak menceraikan istri-istri beliau. Kaum muslimin menyambut gembira kabar tersebut, dan tentu yang lebih gembira lagi adalah istri-istri beliau.

Setelah genap sebulan Rasulullah menjauhi istri-istrinya, beliau kembali kepada mereka. Beliau melihat penyesalan tergambar dari wajah mereka. Mereka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk lebih meyakinkan lagi, beliau mengumumkan penyesalan mereka kepada kaurn muslimin. Hafshah dapat dikatakan sebagai istri Rasul yang paling menyesal sehingga dia mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai tebusan bagi Rasulullah. Hafshah memperbanyak ibadah, terutama puasa dan shalat malam. Kebiasaan itu berlanjut hingga setelah Rasulullah wafat. Bahkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, dia mengikuti perkembangan penaklukan-penaklukan besar, baik di bagian timur maupun barat.

Hafshah merasa sangat kehilangan ketika ayahnya meninggal di tangan Abu Lu’luah. Dia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman, yang ketika itu terjadi fitnah besar antar muslimin yang menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman hingga masa pembai’atan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, Hafshah berada pada kubu Aisyah sebagaimana yang diungkapkannya, “Pendapatku adalah sebagaimana pendapat Aisyah.” Akan tetapi, dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang menyatakan diri berba’iat kepada Ali bin Abi Thalib karena saudaranya, Abdullah bin Umar, memintanya agar berdiam di rumah dan tidak keluar untuk menyatakan ba’iat.

Tentang wafatnya Hafshah, sebagian riwayat mengatakan bahwa Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke empat puluh tujuh pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Nabi yang lain.

Pemilik Mushaf yang Pertama

Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al-Qur’an di tangannya setelah mengalami penghapusan karena dialah satu-satunya istri Nabi yang pandai membaca dan menulis. Pada masa Rasul, Al-Qur’an terjaga di dalam dada dan dihafal oleh para sahabat untuk kemudian dituliskan pada pelepah kurma atau lembaran-lembaran yang tidak terkumpul dalam satu kitab khusus.

Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal A1-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan melawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Qur’an itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Hafshah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh

http://kisahmuslim.com/hafshah-binti-umar-bin-khaththab/

Photo : islamicfinder.org