Kisah Penumpang Kapal Mesir "Salim Express" yang Tenggelam

Singkirkan kisah tenggelamnya kapal Titanic. Inilah kisah teladan yang sesungguhnya....

-Ummu Zahra-

***

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., M.A.


http://kisahmuslim.com/kisah-penumpang-kapal-mesir-%E2%80%9Csalim-express%E2%80%9D-yang-tenggelam/

Foto : morgue***


Bila Anda Begitu, Bagaimana dengan Anak Anda?


Seorang pakar pendidikan memilih tiga ibu peserta pelatihan menjadi orang tua terbaik untuk diwawancara. Anggaplah nama ibu-ibu itu Amalia, Husna dan Marwan (^^V). Sang pakar lalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada ketiga ibu tersebut:


Pakar : "Bila di suatu pagi, ketika Anda sedang memasak sarapan untuk suami, tiba-tiba pada saat yang bersamaan telepon rumah berdering, anak Anda menangis keras. Karena harus mengangkat telepon dan menengok anak Anda, akhirnya masakan untuk sarapan suami gosong. Suami Anda lantas berkata dengan nada meremehkan, 'Bisa nggak Mama masak tanpa harus gosong?'. Nah, dalam kondisi tersebut, apa yang akan Anda lakukan?"


Amalia : "Aku akan lemparkan sarapan gosong tersebut ke wajah suami saya!"


Husna : "Aku akan berkata kepada suami saya, 'Oh, sudah bangun? Masak aja sarapanmu sendiri!'. "


Marwan : "Kata-kata suamiku akan melukai hatiku dan aku bisa menangis mendengarnya..."


Pakar : "Lalu, bagaimana perasaan Anda terhadap suami?"


Amalia, Husna, Marwan : "Marah, benci, dan merasa dizalimi!"


Pakar : "Dalam keadaan seperti itu, mudahkah bagi Anda untuk memasakkan kembali sarapan untuk suami?"


Amalia, Husna, Marwan : (serempak) "Tidak! Tentu saja tidak mudah!"


Pakar : "Bila suami sudah berangkat ke kantor, apakah mudah bagi Anda untuk merapikan rumah dan membelikan segala keperluan suami dalam keadaan tersebut?"


Amalia : "Tidak! Aku akan merasa tertekan seharian!"


Husna : "Tentu tidak! Aku tidak akan membelikan apa pun untuk suamiku pada hari itu!"


Marwan : "Meskipun aku tertekan seharian, aku akan berusaha melaksanakan segala kewajibanku!"



=== Sang Pakar mengalihkan topik ===


Pakar : "Anggaplah sarapan yang anda buat sudah gosong, tetapi suami Anda menanggapinya dengan ucapan, 'Pagi yang melelahkan, ya, Say? Telepon berdering, anak kita menangis, masakan Mama jadi gosong, deh...' dengan nada memaklumi dan bersimpati. Kira-kira apa respon Anda terhadap suami?"


Amalia : (Berbunga-bunga) "Wah, saya tidak akan percaya kalau suami saya berkata seperti itu..."


Husna : "Aku akan merasa bahagia dan tenang dengan komentarnya..."


Marwan : "Aku akan merasa bahagia dan akan terus berusaha mempersembahkan yang terbaik untuknya...!"


Pakar : "Bagaimana jika telepon terus berdering dan anak terus menangis?"


Ketiga Ibu : "Kami tidak akan merasa terganggu dan panik dengan itu!"


Pakar : "Apa yang berbeda kali ini?"


Amalia : "Aku merasa tenang dengan komentar suamiku. Ia tidak mengkritikku dan ia memahami perasaanku. Ia mendukungku dan tidak berada pada sisi yang berlawanan dengan diriku."


Husna dan Marwan mengangguk setuju.


Pakar : "Lalu apabila suami Anda bekerja, apakah akan mudah bagi Anda untuk melakukan pekerjaan rumah?"


Husna : "Saya akan mengerjakan semua itu dengan penuh kerelaan dan kebahagiaan."

Amalia dan Marwan menyetujuinya.


Pakar : "Sekarang, bagaimana jika suami Anda ketika melihat sarapannya gosong berkata, 'Sini! Aku perlihatkan bagaimana cara memasak yang benar!'."


Ketiga ibu: "Tidaakk!! Itu adalah suami yang buruk dan membuat kami seperti orang bodoh!"


Pakar : "Baiklah, kini kita lihat bagaimana interaksi kalian dengan anak-anak kalian..."


Amalia : "Oo, aku mengerti maksud wawancara ini. Aku selalu mengkritik anakku dengan mengatakan, "Kamu sudah besar! Seharusnya kamu mengerti bahwa yang kamu lakukan ini salah!' Kini, aku mengerti mengapa anakku sering marah mendengar ucapanku tersebut."


Husna : "Aku pun selalu berkata kepada anakku, 'Sini! Mama perlihatkan bagaimana cara melakukan ini dan itu!' Mendengar perkataanku itu, anakku tampak marah besar."


Marwan : "Aku selalu mengkritik anakku dan itu menjadi hal yang biasa. Aku selalu mengulang ucapan yang ditujukan kepadaku untuk mengkritikku di saat aku masih kecil. Padahal aku juga tidak suka dengan kritikan tersebut."


Pakar : "Dan kini kau mengucapkan dan melakukan hal yang sama terhadap anakmu?"


Marwan : "Tepat! Itulah yang aku lakukan. Sungguh aku tidak menyukai diriku sendiri ketika harus mengkritiknya!"


Pakar : "Apakah sekarang Anda ingin memperbaiki interaksi dengan anak Anda?"


Marwan : "Tentu, Aku berharap bisa mempelajari cara baru dan lebih baik dalam berinteraksi dengan anakku."


Pakar : "Baiklah, mari kita kembali pada kasus sarapan gosong tadi. Apa yang bisa membuat Anda merasa mencintai dan rela terhadap suami Anda?"


Amalia : "Itu karena suamiku tidak mengkritik kesalahanku dan ia memahami perasaanku."


Husna : "..... dan tanpa harus menyakiti perasaan."


Marwan : "Dan tanpa harus menunjukkan bagaimana harus bersikap."



Sumber : Muhammad Rasyid Dimas,1999. 25 Kita Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak. Rabbani Press. Dengan perubahan seperlunya


Dicopas dari Grup "Sunni Homeschooling" seperti yang diposting oleh Sdri. Amalia Husna

Photo : inima****

Dosa yang Dianggap Biasa - SYIRIK [3]

SIHIR, PERDUKUNAN, DAN RAMALAN


Temasuk syirik yang banyak terjadi adalah sihir, perdukunan dan ramalan. Adapun sihir, ia termasuk perbuatan kufur dan di antara tujuh dosa besar yang menyebabkan kebinasaan. Sihir hanya mendatangkan bahaya dan sama sekali tidak bermanfaat bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman:


“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat (Al Baqarah : 102).


“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (Thaha : 69)


Orang yang mengajarkan sihir adalah kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir) hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu kepada seseorangpun) sebelum mengatakan, “sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah : 102).


Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, pekerjaannya haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.


Dukun dan tukang ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca, cermin, dsb.


Jika sekali waktu mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka. Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.


Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :


“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)


Adapun jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :


“Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).


Ini masih pula harus dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.


Kepercayaan adanya pengaruh bintang dan planet terhadap berbagai kejadian dan kehidupan manusia.


Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam shalat bersama kami, shalat subuh di Hudaibiyah – Di mana masih ada bekas hujan yang turun di malam harinya- setelah beranjak beliau menghadap para sahabatnya seraya berkata:


“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Robb kalian? Mereka menjawab : “ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Allah berfirman : Pagi ini di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan denagn karunia Allah dan rahmatNya maka dia beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: (hujan ini turun) karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepadaKu dan beriman kepada bintang” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Baari : 2/ 333).


Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai Astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di Koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet tersebut maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Di samping syaitan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut, maka membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.


Termasuk syirik, mempercayai adanya manfaat pada sesuatu yang tidak dijadikan demikian oleh Allah Tabaroka wata’ala. Seperti kepercayaan sebagian orang terhadap jimat, mantera-mantera berbahu syirik, kalung dari tulang, gelang logam dan sebagainya, yang penggunaannya sesuai dengan perintah dukun, tukang sihir, atau memang merupakan kepercayaan turun menurun.


Mereka mengalungkan barang-barang tersebut di leher, atau pada anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang dengan pandangan matanya; kena mata). Demikian anggapan mereka. Terkadang mereka mengikatkan barang-barang tersebut pada badan, manggantungkannya di mobil atau rumah, atau mereka mengenakan cincin dengan berbagai macam batu permata, disertai kepercayaan tertentu, seperti untuk tolak bala’ atau untuk menghilangkannya.


Hal semacam ini, tak diragukan lagi sangat bertentangan dengan (perintah) tawakkal kepada Allah. Dan tidaklah hal itu menambah kepada manusia, selain kelemahan. Belum lagi ia termasuk berobat dengan sesuatu yang diharamkan.


Berbagai jimat yang digantungkan, sebagian besar dari padanya termasuk syirik jaly (yang nyata). Demikian pula dengan minta pertolongan kepada sebagian jin atau setan, gambar-gambar yang tak bermakna, tulisan-tulisan yang tak berarti dan sebagainya. Sebagian tukang tenung (sulap) menulis ayat-ayat Al Qur’an dan mencampur-adukkannya dengan hal lain yang termasuk syirik. Bahkan sebagian mereka menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan barang yang najis atau dengan darah haid. Menggantungkan atau mengikatkan segala yang disebutkan di atas adalah haram. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam :


“Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik [HR Imam Ahmad :4/ 156 dan dalam silsilah hadits shahihah hadits No : 492].


Orang yang melakukan perbuatan tersebut, jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu bisa mendatangkan manfaat atau madharat (dengan sendirinya) selain Allah maka dia telah masuk dalam golongan pelaku syirik besar. Dan jika ia mempercayai bahwa berbagai hal itu merupakan sebab bagi datangnya manfaat, padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab, maka dia telah terjerumus pada perbutan syirik kecil, dan ini masuk dalam kategori syirkul asbab.


Sumber : " Dosa-dosa yang Dianggap Biasa" oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid (versi e-book)